Rabu, 21 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi
Inflasi Kota Kediri

Di Bawah Nasional, di Atas Jawa Timur

Kamis, 02 Aug 2018 16:04 | editor : Adi Nugroho

NAIK: BBM jadi faktor penyumbang inflasi.

NAIK: BBM jadi faktor penyumbang inflasi. (RAMONA VALENTIN – JawaPos.com/RadarKediri)

KEDIRI KOTA - Kota Kediri kembali berhasil menekan tingkat inflasi sepanjang Juli lalu. Mereka mencatatkan tingkat inflasi 0,09 persen. Turun bila dibandingkan inflasi Juni yang sebesar 0,43 persen. Atau turun sebesar 0,34 persen.

Walaupun mengalami penurunan tapi angka inflasi Kota Kediri tersebut masih di atas inflasi di Jatim secara keseluruhan. Para periode Juli Jatim mencatatkan inflasi pada angka 0,07 persen. Sedangkan bila dibandingkan dengan angka inflasi secara nasional, Kota Kediri masih jauh berada di bawahnya. Sebab, inflasi nasional mencapai 0,28 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Ellyn T. Brahmana menyebut inflasi di Kota Kediri terkendali. “Ada Inflasi berarti ada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Inflasi yang terjadi diakui Ellyn dipengaruhi oleh kenaikan hingga penurunan indeks harga konsumen (IHK) dari beberapa kelompok pengeluaran. Kelompok bahan makanan naik sebesar 30 persen. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 0,08 persen. Sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik sebesar 0,11 persen.

“Kalau untuk tranportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami penurunan sebesar 0,09 persen,” paparnya pada Jawa Pos Radar Kediri.

Diakui Ellyn, komoditas yang memiliki sumbangsih terbesar inflasi Juli adalah telur ayam. Komoditas itu mengalami kenaikan harga usai Lebaran. Mulai Rp 19 ribu per kilogram saat Lebaran harga telur sempat Rp 26 ribu per kilogram di pertengahan Juli.

“Ya itu, akhirnya kami melakukan operasi pasar untuk melihat kondisi di lapangan,” jelasnya.

Setelah telur ayam, urutan kedua adalah bahan bakar minyak (BBM) dengan kenaikan harga sebesar 1,41 persen. Disusul dengan kacang panjang yang mengalami kenikan harga sebesar 20,17 persen. Juga ada tarif pulsa ponsel sebesar 1,93 persen.

Ellyn mengungkapkan, musim haji saat ini juga mempengaruhi harga baju muslim hingga mengalami kenaikan harga sebesar 3,85 persen. “Ini langka ya, tidak biasanya. Karena kebetulan juga menjelang musim haji,” jelasnya.

Ellyn juga mengungkapkan sumbangsih rokok kretek filter yang mengalami kenaikan harga pada pita cukainya. Konsumen rokok juga ikut mempengaruhi sehingga rokok memberikan sumbangsih pada inflasi. “Karena rokok itu bobotnya besar. Berapa banyak warga Kediri yang merokok?”  imbuh Ellyn.

Dari perolehan tersebut, Ellyn mengakui bila mempertahankan 1 persen untuk inflasi komulatif bukanlah hal mudah bagi tim pengendali inflasi daerah (TPID). Mereka menduduki posisi terendah dari delapan kota yang dihitung tingkat inflasinya di Jatim. Sedangkan Untuk IHK, Kota Kediri mencatatkan 128,04. Menempati urutan ke-5 dari 8 kota IHK di Provinsi Jawa Timur.

Sementara itu Adi Wijaya, kepala Statistik Distribusi Kediri mengakui bila warga Kota Kediri terkontrol dalam menentukan harga. Misal, bahan baku mengalami kenaikan maka barang jadi tidak langsung mengalami kenaikan harga. “Untuk saat ini yang dikawatirkan adalah cukai rokok yang cenderung naik,” pungkasnya.

(rk/fiz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia