Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Nyusu Gudel

Selasa, 31 Jul 2018 15:46 | editor : Adi Nugroho

Nyusu Gudel

Matglembos memang wong ngglembosi. Padahal, ndonya sudah berlari-lari. Sipat kuping. Mobat-mabit. Seperti film kartun itu. Macam Loneey Tunes atau Tom and Jerry. Kalau ndak ikut berlari-lari, sampai sipat kuping –seperti petuah Mbah Anthony yang Giddens itu, ya mesti ketinggalan.

Tapi dasar Matglembos yang biasa matek aji kebut semalam, berlari-lari seperti itu adalah hal yang ndak perlu. Ndonyane belum kiamat. Slow motion saja. Lebih bisa dinikmati gerakannya. Baru, setelah saatnya tiba, dia merapal mantra, “Niat ingsun matek aji sewengi dadi. Wes hewes hewes…” Ulangan. Nggarap pe-er sekolah. Menyelesaikan pekerjaan. Apa saja pokoknya.

Persis seperti waktu ngoleh-olehi daftar caleg untuk disetor ke KaPeU. Bagi orang seperti dia, mantra seperti di atas sangat berguna. Daripada mumet-mumet cari kader, mendidiknya, hingga mendoktrinnya tentang cita-cita perjuangan partai lalu menawarkannya kepada pemilih. Semua itu belum menjamin bisa dapat kursi.

Padahal, kursi adalah lambang kekuasaan. Dan, partai politik didirikan untuk memperoleh kekuasaan. Guna mewujudkan cita-cita perjuangan partai, sebenarnya. Semakin banyak kursi diperoleh, semakin besarlah kekuasaan partai. Untuk membuat kebijakan-kebijakan politik.

Semakin banyak kursi didapat, juga semakin hebat sebuah partai. Ya pengaruhnya. Ya gengsinya. Inilah yang membuat partai-partai fokus pada tujuan: kekuasaan. Sebanyak-banyak kursi. Seluas-luas kekuasaan.

Dan, proses meraih tujuan yang paling cepat ya dengan cara mencari figur yang paling kuat daya tawarnya. Ya daya tawar sosoknya. Ya daya tawar duitnya. Ya daya tawar jaringannya.

Partai yang nunut figur. Bukan figur yang manut partai. Ibarat pepatah Jawa, bukan gudel yang nyusu kebo. Tapi, kebo yang nyusu gudel. Karena gudelnya memang seksi. Susunya juga penuh berisi. Maka, ndak peduli itu gudel anaknya sendiri atau anak kebo lain, yang penting bisa nyusu. Asal gudelnya mau.

Mencari kader, mendidik, menanamkan ideologi, dan membekalinya tentang cita-cita perjuangan politik partai hingga ‘laku dijual’ ke masyarakat memang bukan kerja yang ringan dan sebentar. Bukan pula kerja yang murah. Sudah berat, lama, dan mahal, belum menjamin pula untuk mendapat kekuasaan. Lalu, apa artinya sebuah partai tanpa memiliki kekuasaan politik?

Mirip dengan menyusun skuad tim sepakbola kita. Lebih mudah membeli pemain yang sudah jadi daripada membina mereka sejak dini lewat kompetisi-kompetisi internal. Lebih menjanjikan sebuah kemenangan.

Maka, ajian kebut semalam alias sewengi dadi ala Matglembos menjadi lebih penting. Apalagi dalam pemilu yang menggunakan sistem proporsional terbuka. Yang menjadikan nama sosok lebih penting daripada nomor urut pencalonan. Kenapa repot-repot melakukan kaderisasi dan pendidikan politik jika kader yang disodorkan partai akan dikalahkan oleh para pendatang yang jauh berpeluang mendulang suara?

“Niat ingsun matek aji sewengi dadi. Wes hewes hewes…” Maka, jadilah daftar calon yang disetorkan ke KaPeU. Isinya, nama-nama tenar. Meski, banyak pula yang tidak. Asalkan perempuan. Agar terpenuhi kuotanya.

Nama-nama tenar, yang riwayat perkaderannya di partai itu tak banyak yang tahu. Bahkan, dicari tahu pun tak akan ketemu. Tapi, dia tenar. Tenar namanya. Tenar jaringannya. Juga tenar kekuatan modalnya. Yang seperti ini yang bisa disusu.

Perkaderan, pendidikan politik, memang bukan mantra sakti. Ia hanya bisa mewujudkan hasil yang otentik lewat kerja keras. Itu pun bagi orang yang mau memercayainya. Dan, punya kesabaran. Dua hal, yang Matglembos tidak memilikinya. (tauhid wijaya)

(rk/fiz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia