Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Salim-saliman

Kamis, 21 Jun 2018 14:59 | editor : Adi Nugroho

Salim-saliman

Nol-nol. Kosong-kosong. Itu bisa jadi terjemahan dari halalbihalal yang hingga hari ini suasananya masih terasa. Ditandai dengan salaman. Salim-saliman. “Nol-nol ya?,” ucap Dulgembul sambil salaman dan nguyek rambut Matkriwul.  Begitu sederhana. Cair.

Tanpa harus mengucapkan lafal Arabnya, ucapan itu terasa mendalam maknanya ketika keluar dari hati. “Ho-oh. Podo-podo. Kosong-kosong,” sahut Matkriwul mengikhlaskan –bahkan bersuka cita—waktu Dulgembul menandaskan hampir separo toples pastel kering isi abon kesukaannya.

Nol-nol, kosong-kosong, halalbihalal, adalah kata-kata yang semakna dalam konteks Lebaran, Idul Fitri, seperti sekarang. Saling menghalalkan, saling mengikhlaskan, saling memaafkan segala hal yang sebelumnya membuat tidak halal, tidak ikhlas, dan ngganjel di hati satu sama lain.

Hal-hal yang tidak mungkin dilepaskan dalam pergaulan sehari-hari. Apalagi yang intensitas interaksinya tinggi. Keluarga serumah, tetangga, teman kerja, teman cangkruk, juga kawan di dunia maya. Semua potensial memunculkan hal-hal yang tidak halal, tidak ikhlas, dan ngganjel di hati. 

Nol-nol, kosong-kosong, membuat semua yang tidak halal, tidak ikhlas, dan ngganjel di hati itu menjadi ‘lebar’. Habis. Fitri. Suci. Dalam kebeningan dan keheningan hati seperti itulah kita bisa melihat orang lain sebagaimana adanya dia. Tidak terhalangi oleh piktor atau hattor. Pikiran yang kotor atau hati yang kotor.

Dalam keadaan hati dan pikiran yang nggrundel, tidak ikhlas, tidak halal, kita cenderung kehilangan objektivitas. Hal yang sulit ditemukan dalam era post truth seperti sekarang. Zaman pasca-kebenaran. Setelah kebenaran. Kebenaran yang telah terloncati. Sehingga, berada di belakang. Tertinggalkan.

Yang ada adalah pikiran kita sendiri. Yang tidak lagi didasarkan kebenaran. Yang objektif. Melainkan, didasarkan selera. Yang bersandar pada suka atau benci. Yang disenangi atau disukai, itulah yang benar. Yang dibenci, itulah yang salah. Apa pun kondisi objektifnya.

Seperti waktu Dulgembul jatuh cintrong pada Yu Kanthil hingga terkintil-kintil. Logika apapun ndak akan bisa mengubah pendiriannya. Bahwa Yu Kanthil adalah perempuan paling haayu sak ndonya. Apapun kondisi objektifnya.

Sebab, jatuh cintrong memang bukan urusan logika. Tapi, rasa. Hati. Makanya, sebutannya jadi ‘jatuh hati’. Karena hati, kalbu, sebagai pusat perasaan, pada konteks keilmuan masa lalu letaknya memang di bawah. Di dada. Setiap ada yang membuat perasaan bergejolak, dadalah yang berdebar-debar. Sedangkan logika, pengendalinya adalah otak. Letaknya di atas. Di kepala. Setiap berpikir keras, kepalalah yang berdenyut-denyut.

Pada era post truth, hal-hal yang mestinya dinilai dengan logika berbasis objektivitas justru dinilai dengan rasa yang berbasis subjektivitas. Dan, karena yang lebih aktif pada era ini adalah rasa, maka hal inilah yang terus dimain-mainkan. Oleh orang yang punya kepentingan. Di luar sana. Caranya, memproduksi terus menerus sesuatu yang bisa menyentuh rasa.

Wujudnya? Kekaguman atau kebencian. Dua hal itulah yang akan cenderung disambar oleh subjektivitas kita. Lalu, kita akan langsung membenarkannya. Berdasarkan perasaan kita. Yang kita kagumi adalah benar. Sedangkan yang kita benci adalah salah.

Itulah kebenaran. Menurut kita. Sebesar atau sekecil apapun kualitas data yang digunakan untuk membangun kekaguman atau kebencian tersebut, menjadi hal yang tak lagi penting. Makanya, ngandani orang-orang seperti ini tak ubahnya ngandani Dulgembul yang jatuh cintrong pada Yu Menik. Percuma. Seperti meyakinkan bahwa sambel tumpang adalah kuliner paling enak sak ndonya kepada orang yang ndak doyan hanya karena mencium baunya.

Lebih baik mengajak seperti yang dilakukan Dulgembul dan Matkriwul di atas. Nol-nol. Kosong-kosong. Halalbihalal. Dengan hati dan pikiran masing-masing. Agar kotoran-kotorannya menjadi ‘lebar’. Habis. Fitri. Suci. Sehingga, bisa melihat segala yang di luar sana secara jernih. Bening.

Dengan begitu, kita bisa salaman. Salim-saliman. Saling memberikan keselamatan. Apapun kondisi objektif kita –yang pasti berbeda satu sama lain. Bukan saling mencaci, menghina, dan menyebabkan kehancuran.

Ngeri memang, jika hati dan pikiran ini tidak fitri. (tauhid wijaya)

(rk/die/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia