Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Tanda-Tanda

Jumat, 08 Jun 2018 14:29 | editor : Adi Nugroho

Tanda-Tanda

Gejala. Tanda-tanda. Itu senantiasa mendahului sebuah peristiwa. Apalagi untuk yang luar biasa. Maka, beruntunglah atas hadirnya pertanda-pertanda itu. Gejala-gejala itu. Seperti waktu Yu Menik mendadak sentrap-sentrup. Itu adalah pertanda akan datangnya serangan virus influenza ke tubuhnya. Atau, Dulgembul yang ongap-angop. Itu pertanda bahwa kakinya ingin segera diselonjorkan. Badannya segera direbahkan.

Posoan gini, tanda-tanda itu semakin kerap datang pada Dulgembul. Dan, dia sangat pandai membacanya. Bahkan, kerap kali gelisah jika tanda-tanda yang ditunggunya tak segera datang. Mata masih bening, tapi perut dibiarkan kosong adalah siksaan batin sekaligus fisik baginya. Terlebih jika kentong Magrib sebagai pertanda bolehnya berbuka puasa masih lama datangnya. “Sik suwe to, Wul?,” tanyanya dengan mata memelas kepada Matkriwul waktu lumah-lumah di emperan langgar.

Ramadan, memang bulan yang penuh dengan tanda-tanda. Sejak menjelang kedatangannya hingga menjelang kepergiannya. Datang penuh tanda-tanda. Pergi pun demikian pula. Bersyukurlah yang bisa membacanya karena dapat sesegera mungkin menyiapkan diri menyambutnya. Entah di sisi yang mana. Karena kedatangan maupun kepergian Ramadan memang bisa disambut dari sisi mana saja.

Seperti sepertiga terakhir Ramadan begini. Orang bisa menyambutnya dengan menjadi jamaah ‘tawaf’ pemburu baju baru di mal atau jamaah salat malam pemburu lailatul qadar di masjid atau langgar. Atau, bisa dua-duanya sekaligus.

Karena, sekali lagi, Ramadan bisa disambut dari sisi mana saja. Yang berdimensi sosial dan profan maupun yang berdimensi spiritual ketuhanan. Maklum, manusia memang makhluk dua-duanya. Ya makhluk sosial. Ya makhluk spiritual. Dalam pergaulan sosial dia butuh sesuatu yang profan. Yang bisa dilihat. Dalam ukuran kepantasan. Sedangkan sebagai makhluk spiritual, ia butuh berdekat-dekat dengan Tuhan. Yang memuaskan batinnya. Ruhaninya.

Nah, ramainya jamaah ‘tawaf’ pemburu baju maupun jamaah salat pemburu lailatul qadar adalah bagian dari tanda-tanda hendak perginya Ramadan itu. Cuma, tanda-tanda itu –terutama yang disebut pertama—akan merisaukan jika tak diikuti tanda-tanda lainnya.

Hal inilah yang membuat banyak orang di negeri ini agak ‘shock’ beberapa hari terakhir. Sebagian shock karena gembira. Sebagian shock karena tak rela. Mereka yang gembira karena ternyata tanda-tanda itu datang juga. Walau, datangnya membuat shock karena tak didahului tanda-tanda yang kentara alias tiba-tiba. Tiadanya tanda-tanda itulah yang kemudian ikut membuat shock mereka yang tak rela karena tak ikut mendapatkannya. Apalagi bagi warga warung sego tumpang yang tak masuk dalam rencana negara.

Te-Ha-eR. Adalah tanda-tanda yang dinantikan itu. Tanda-tanda akan perginya Ramadan dan datangnya Lebaran. Sebab, tanpa hal itu, mereka akan kesulitan untuk bergabung sebagai jamaah ‘tawaf’ pemburu baju baru. Walau, bagi sebagian daerah yang tak mampu, tanda-tanda itu terasa memusingkan kepala. Harus putar otak untuk menyisihkan anggarannya. “Mbok, apa gak enek tanda-tanda nggo aku?,” tanya Dulgembul kepada Mbok Dadap, berharap. (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia