Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Es Garbis Apa Es Tebu

Kamis, 24 May 2018 14:20 | editor : Adi Nugroho

Es Garbis Apa Es Tebu

“Es garbis apa es tebu. Timbang nangis luwung gemuyu…” Poso-poso gini, yang dipikir Dulgembul memang cuma yang seger-seger. Apalagi jika siang sedang terik. Tenggorokan kering. Sambil leyeh-leyeh, ngadem di emperan masjid, rengeng-rengeng-nya ya begitu. Es garbis sama es tebu.

Itu memang minuman favorit tiap kali posoan. Dan, kalau bisa, boleh, plus ndak malu –tapi ini jarang terjadi, Dulgembul pasti milih keduanya. Dijejer-jejer di meja makan sejak jam setengah lima sore. Sehingga, begitu kenthong Magrib berbunyi, dia bisa langsung meraihnya. Glegek..glegek.. Membasahi tenggorokan yang seharian hanya dilewati idu.

Soal puasa yang berhakikat menahan dan mengendalikan diri, batasnya bagi Dulgembul ya pada kenthong Magrib itu. Begitu kenthong, pertahanan model bus parkir ala Mourinho sudah ndak ada lagi. Apalagi, memang, nyaris ndak ada parkir yang gratis. Sudah bayar di muka setahun waktu her STNK. Atau, sungkan sama tukang parkir yang sudah kadung berdiri di samping kendaraan sambil ngabani.

Itu model ngempet ala Dulgembul. Ngempet dari, terutama, rasa haus. Dan, rasa lapar juga, sebenarnya. Makanya, dia paling suka ngadem sesiangan Ramadan. Pilihannya ya ke masjid atau langgar yang lantainya ancles. Sambil murep, perutnya yang gembul ditempelkan.

Mau nyangkruk di warung Mbok Dadap yang rindang oleh pepohonan juga ndak memungkinkan. Selain memang tutup kalau siang, nyangkruk di sana jelas merupakan siksaan bagi Dulgembul. Lahir maupun batin. Memori tentang nyamleng-nya sambel tumpang dleweran di piring adalah siksaan batin. Kalau sudah begitu, perutnya yang baru beberapa jam tak terisi pasti juga sudah meronta-ronta lagi. 

Lain lagi model ngempet-nya Bulik Waru dan Jeng Mawar. Gara-gara sepagi hingga sore warung Mbok Dadap tutup, ndak ada lagi tempat ‘diskusi’ yang asyik bagi emak-emak. ‘Diskusi’ yang –sebenarnya—kontennya lebih banyak ngrasani. Padahal, bagi mereka, itu adalah bagian dari eksistensi diri. Ndak ada mereka kalau ndak ada rasan-rasan. Eksistensialisme, pada mereka, diukur dari situ.

Sembarang-mbarang dirasani. Mulai ganti presiden sampai ganti daster. Mulai teroris sampai teloris alias bakul ndog. Apalagi, Ramadan sudah dapat seminggu seperti sekarang. Itu berarti, Lebaran kurang tiga minggu lagi. Urusan daster dan ndog ndak bisa dianggap sepele. Bahkan, bisa jauh lebih penting dan mendesak dibanding urusan presiden dan teroris.

“Sampek enek sing ngebom kalau aku nanti belanja daster atau ndog, awas..! Tak bom ganti..,” ancam Bulik Waru sambil nunjukkan tulisan dengan spidol #AkuOraWedi di kausnya.

“Sampek harga daster atau ndog ndak terjangkau, awas…! Presiden harus ikut bertanggung jawab..,” ancam Jeng Mawar ndak mau kalah.

Halah-halah..kepethiten. Kok ngebom ganti, lombok dan uyah larang saja emak-emak itu sudah kebingungan. Apalagi elpiji melon sulit dicari. Soalnya, pawonan sudah kadung dibongkar. Minyak tanah juga sudah ndak ada. Ndak usah presiden, tanggung jawabnya sebagai emak untuk menyediakan buka puasa pun bisa kacau balau kalau sudah begitu. Kan banyak bakul takjil? Bakul takjil pun kebingungan kalau problemnya seperti itu.

“Jangan rasan-rasan, Bulik, Jeng. Ini posoan, lo..,” kata Kang Noyo mengingatkan. “Ganjarannya bisa berkurang.”

Eh, yang diingatkan malah mencep. “Ini ndak rasan-rasan, Yo. Rasan-rasan itu kalau aku sama Mawar ini nerocos di warung Mbok Dadap gitu lo,” jawab Bulik Waru.

“Ho-oh. Ini cuma chatting di grup kok. Komentar di facebook,” timpal Jeng Mawar. “Aku sama Bulik Waru ini dari tadi sama-sama diam. Cuma ngetik-ngetik di hape ini.”

Ngempet rasan-rasan, ngempet komentar, sepertinya memang lebih sulit dibanding ngempet haus dan lapar. Ndak cukup dengan lumah-lumah di lantai dingin masjid atau langgar seperti Dulgembul. Perut ditempelkan lantai marmer atau kepala digerujuki air pun, adem-nya ndak mampu meredakan hasrat untuk rasan-rasan dan komentar.

Padahal, posoan gini, di medsos banyak pilihan ngaji live yang bikin adem hati. Termasuk, ngaji Kitab Matsnawi karya Jalaluddin Rumi. Seperti yang diasuh oleh Kiai Kuswaidi Syafiie. Tentang cinta, yang melembutkan hati. Yang ndak akan bikin marah-marah terhadap keadaan. Yang ndak akan bikin menangisi kesulitan. Sebaliknya, selalu bikin gemuyu terhadap hidup yang telah diberikan Tuhan.

Jadi, pilih es garbis apa es tebu? (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia