Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Benere Dewe

Jumat, 11 May 2018 17:33 | editor : Adi Nugroho

Benere Dewe
Berita Terkait

Dadi wong kurang piknik memang susah. Ndak tau warna-warni kehidupan. Ndak tau gulung-koming-nya orang-orang. Ndak tau pula sedih-gembira, tangis-tawa, atau marah-candanya manusia lain di luar sana. Tau-nya hanya hal-hal yang terjadi pada dirinya sendiri. Atau, orang-orang di lingkungan terdekatnya. 

Itulah yang membuat orang seperti Matcupet jadi gampang marah. Gampang maido. Gampang ngelokne segala hal yang dianggapnya tidak cocok dengan dirinya. “Ndog dadar itu ndak gini, Mbok.  Jenenge ndog dadar, itu harus tipis, rata,” komentarnya waktu pesen sego tumpang lauk ndog dadar. Sambil komentar, ndog dadar di piring tetap saja disantapnya.

Untung, Mbok Dadap itu orang yang sabarnya ndak umum. Kalau ndak, pasti wong seperti Matcupet sudah disawat irus. Atau enthong. Yang semremet ya para pengunjung warung yang lain. Mangan kok kakehan koment. Ndak cocok ya sudah. Pindah warung juga ndak apa-apa. Ndak akan ada yang marah. Karena makan memang urusan selera. Yang ndak bisa dipaksakan.

Masalahnya, itu yang ndak dilakukan Matcupet. Dia selalu dan selalu datang kembali ke warung Mbok Dadap. Menikmati sego tumpang. Lalu, tambah lauk yang selalu dipaido-nya. Kurang inilah, kurang itulah, yang segalanya didasarkan ukurannya pribadi. “Mentala nyawat trasi dele, aku,” kata Kang Noyo geregetan. Yang lain malah lebih ekstrem, “Ra sah didoli, Mbok! Kon tuku nyang warung liya ae.”

Mbok Dadap hanya mesem. Dia, yang sudah tuwuk piknik kehidupan, ndak nggumun lagi menghadapi orang seperti itu. Namanya saja Matcupet. Pikirannya pasti juga cupet. Itu hanya semata akibat kurang piknik. “Mesakne,” ucapnya, sambil tetap ngedoli pesanan Matcupet.

Ya, Mbok Dadap mesakne karena orang-orang seperti Matcupet cenderung hanya tau tentang satu hal saja. Satu selera. Satu kebenaran. Yaitu, hal tentang dirinya, selera menurut dirinya, dan kebenaran versi dirinya.

Jadinya, dunia terasa sempit. Hidupnya susah. Ndak gampang beradaptasi. Perutnya pun gampang mules karena ndak biasa menerima makanan atau minuman di luar seleranya. Kalau ke luar negeri, dia harus mbontot makanan sendiri.

Sehingga, jauh-jauh ke Eropa, Amerika, Afrika, atau belahan dunia lain, makannya tiap hari tetap saja harus sambel pecel. Baru-baru ini saja bisa bawa sambel tumpang instan. Ndak bisa makan steak, escargot, spaghetti, atau menu-menu lain yang menggunakan bumbu asli dari sana.

Beda dengan Mbok Dadap yang walau sego tumpang is numero uno, tetap bisa menikmati menu-menu dari belahan daerah/negara lain. Merasakan keunikan citarasa masing-masing. Meski, belum tentu ia menyukai. “Mesakne,” ucapnya lagi.

Yang juga bikin orang-orang seperti Kang Noyo geregetan, bukan hanya soal makanan yang dikomentari Matcupet. Soal puji-pujian, tahlilan, atau ngaji bocah-bocah di langgar pun demikian. Ini bukan karena Matcupet tidak setuju terhadap puji-pujian menjelang salat jamaah itu. Apalagi tidak setuju terhadap ngajinya para bocah. Bukan. Akan tetapi, semata karena dia tidak sreg dengan cengkok pujian atau cengkok ngaji bocah-bocah tersebut.

Mengapa? Karena cengkok pujian, tahlilan, atau ngaji yang biasa didengar dan dilantunkan Matcupet sejak kecil di langgar kampungnya tidak demikian. Bahkan, sampai sekarang. “Ndak bener itu. Nadanya ndak begitu. Lafadh-nya juga ndak pas,” komentar Matcupet tiap kali.

“Kasihan,” komentar Pakde Suto mendengar curhat Kang Noyo. Karena orang seperti Matcupet hanya bisa menemukan keindahan dan kebenaran dari dirinya sendiri. Ndak bisa menemukan apalagi menikmati keindahan dan kebenaran dari orang lain. Padahal, dirinya cuma satu. Sementara, semua yang di luar dirinya adalah orang lain.

Makanya, orang seperti Matcupet ndak bisa menerima huruf ‘ain yang diucapkan ngain oleh lidah Jawa yang masih tebal. ‘Alaihim yang diucapkan ngalaihim. Ndak fasih. Berantakan makhraj alias pronunciation-nya.

Ini sebagaimana dia tidak rela jika iwak kutuk disebut ikan gabus. Brengkes disebut pepes. Soto disebut coto atau saoto. Tak rela pula jika menjumpai soto kok bening. Sop kok buthek. Santan kok diganti susu. Martabak kok manis. Dan lain-lain. Dan sebagainya.

Pokoknya, yang dia tau, itulah yang benar. Hanya itu. Ndak ada yang lain. Benere dewe. Mesakne… (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia