Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Tukang Nyathet

Jumat, 23 Mar 2018 00:29 | editor : Adi Nugroho

sego tumpang - radar kediri

Mbok Dadap paling sedih kalau yang datang ke warungnya adalah Matsempel. Bukan apa-apa sih. Tapi, kebiasaannya itu yang kadang bikin geregetan. “Nyathet, Mbok,” ucapnya tiap kali menandaskan sepiring sego tumpang, secangkir kopi, dan beberapa biji gorengan di atas meja.

Bayarnya sebulan sekali, meski lebih sering tidak mesti. Kadang, cathetan sampai berlembar-lembar dan kalender bulanan di dinding sudah disobek berkali-kali, Matsempel baru rela mengeluarkan dompet untuk membayar. Nah, itu: rela, yang menjadi kata kunci. Yang sering bikin Mbok Dadap jadi plenggang-plenggong.

“Kowe iki lo, nduwe duit kok ora ndang mbayar…,” ucap Mbok Dadap setengah menggerutu. Tapi, hanya sampai di situ. Bakul sego tumpang yang enaknya sak ndonya itu batas marahnya ya hanya sampai di situ. Kesabaran dan kemurahan hatinya melebihi batas kemarahannya.

Itu yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang seperti Matsempel. Padahal, bagi orang yang tau, gerutuan Mbok Dadap adalah puncak dari ketidaksetujuannya atas sesuatu. Artinya, jika si mbok sudah menggerutu, berarti sesuatu itu sudah benar-benar keterlaluan.  

Orang-orang di warung sendiri sudah nggak sabaran setiap kali Matsempel datang. Lagaknya bikin geregetan. Makan milih ini-itu melebihi yang lain, eh giliran bayar cuma bilang, “Nyathet, Mbok.”

“Dapuranmu, Peeelll…!,” semprot mereka begitu Matsempel ngluntrung pergi. Kalau saja ndak dicegah sama Mbok Dadap, Matsempel pasti sudah diantemi. Maklum, ndak sumbut dengan lagaknya yang semugih. Omongannya juga gede. Ke mana-mana suka ngeksis: ndak di dunia nyata, ndak di dunia maya. Akun medsosnya penuh gambar-gambar eksis. Menyaingi Matnecis.

Seperti gambar-gambar medsosnya, utangnya juga di mana-mana: eksis. Jika sudah kebulet utang dan ndak bisa nyaur, sambat. Ke dulur-dulurnya. Ke teman-temannya. Begitu dilunasi, eh ngutang lagi. Dari yang kecil-kecil seperti sego tumpang sampai yang besar-besar untuk penampilan. Nasihat dan petuah dari dulur dan teman untuk berhati-hati dalam berutang pun ibarat masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.

Soal financial planning, itu hanya bikin pusing. Soal manajemen utang yang menggariskan total cicilan tak boleh lebih dari 30 persen pendapatan, itu hanya persetan. Sebab, bagi Matsempel, utang bukanlah soal kebutuhan. Tapi, sudah menjadi kebiasaan. Bagian dari gaya kehidupan.

Karena itu, begitu pendapatannya naik, utangnya juga naik. Soal investasi dan tabungan, itu belakangan. Karena baginya, utang adalah investasi dan tabungan itu sendiri. “Kalau ndak utang, aku ndak bakal punya beginian,” katanya. Justru, ia lebih khawatir jika jadi tabungan. “Uang tetap habis, barang tidak di tangan,” dalihnya yang memang tidak kuat ngempet untuk memiliki barang yang diinginkan.

Bahwa harga barang yang diinginkannya kemudian menjadi jauh lebih mahal jika dibeli dengan cara berutang, Matsempel juga tidak peduli. Pun demikian jika ia harus pontang-panting membayar total cicilan yang nilainya sudah mengganggu biaya dasar hidup bulanan.

Bagi Matsempel, justru di situlah keasyikannya. Ia bisa menikmati ‘ngeri-ngeri sedap’-nya. Jurus-jurusnya, termasuk yang ngawur, bisa keluar: baik untuk mencari tambahan pendapatan maupun ngakali juru tagih yang datang. “Hidup itu dinamis,” begitu dia bilang.

Hidup sederhana, apa adanya nan tenang, bagi Matsempel, tidaklah mengasyikkan. Tak ada tantangan-tantangan. Makanya, gerutuan Mbok Dadap adalah nyanyian pengantar tidur malam baginya. Makian orang-orang adalah penyulut adrenalin untuk memulai aktivitas di pagi hari. Ketukan pintu pagar dari para juru tagih adalah simfoni penggugah ‘kreativitas’ untuk mencari jurus-jurus baru gali lubang tutup lubang.

Begitulah, hidup harus dinamis dan senantiasa mencari tantangan. Dasar sempeeelll..! (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia