Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Ra Necis Ra Mbois

Kamis, 15 Mar 2018 16:34 | editor : Adi Nugroho

sego tumpang - radar kediri

Soal tren, Matnecis tak pernah ketinggalan. Apa saja yang sedang menjadi pembicaraan saat ini diikuti. Perkembangan mode apa pun tak ada yang terlewati. Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Mulai pomade terbaru, kalung dan sabuk terkini, hingga sepatu terlaris tahun ini. Makanya, ke mana-mana ia selalu cling.

“Gaya rambutmu, parfummu, selalu gonta-ganti,” komentar para pengunjung warung sego tumpang Mbok Dadap setiap kali Matnecis ikut ngantre, “Mbois tenan.”

Yang dikomentari hanya mesam-mesem. Hidungnya mekrok. Perkara seringkali ada yang menganggapnya menjadi kormod alias korban mode, Matnecis tak peduli. Wong mbois kudu selalu tampil necis. Begitu semboyannya. Ra necis, ra mbois.

Agar tak ketinggalan zaman, orang memang harus selalu mengikuti tren. Dan, tren, bisa diciptakan. Tergantung untuk apa kepentingannya. Seperti Matnecis yang oleh sebagian pelanggan warung Mbok Dadap dianggap kormod, tren yang diikutinya adalah ciptaan para produsen pomade, kalung, sabuk, sepatu, juga parfum.

Ya, itu harus dilakukan oleh para produsen agar dagangannya laku. Untuk itu, mereka rela melakukan riset sampai menyewa model-model mahal nan ayu dan tampan. Kemudian, membikin event-event yang membidik sasaran pasar. Tak cukup sekali, melainkan harus berkali-kali. Di waktu dan tempat yang memungkinkan dilihat dan didengar oleh banyak pasang mata dan telinga.

Jika itu diikuti oleh banyak orang, maka jadilah tren. Yang tak ikut bakal ketinggalan zaman. Semakin banyak yang ikut, semakin senanglah penciptanya. Sebab, itu berarti, produknya semakin banyak yang menggunakan. Membeli.

Lebih senang lagi jika tren yang diciptakan berkembang menjadi gaya hidup. Sebab, umurnya akan semakin lama. Ini karena basisnya bukan lagi ikut-ikutan, melainkan kesadaran. Jika tren biasanya sesaat, periodik, gaya hidup tidak demikian. Lebih awet.

Nah, tren mempunyai spektrum yang luas. Termasuk dalam beragama. Maraknya konten dakwah dalam media sosial telah menciptakan tren tersendiri. Dalam beragama. Bahwa mempelajari agama kini begitu mudahnya. Tak perlu lagi harus ndampar ala pesantren untuk menyelesaikan kitab sekian lama. Maka, muncullah santri-santri virtual. Tinggal buka medsos, pilih ustad, lalu dengarkan pengajiannya.

Di situlah kesadaran-kesadaran baru dalam beragama ikut dibentuk. Cara anyar dalam beragama ikut dikonstruksikan. Harus begini, harus begitu. Karena begini dan begitu. Pada audiens yang sebelumnya kering dari sentuhan pengajian dengan keilmuan yang lebih rumit, itu adalah hal-hal baru yang akan segera menyedot perhatian. Karena sudah watak manusia untuk tertarik pada hal-hal baru. Seperti mahasiswa anyaran yang begitu mudah tertarik pada ide-ide sosialisme –atau bahkan komunisme—sebagai lawan dari kapitalisme yang sehari-hari menjadi bagian kehidupan mereka sehingga tak lagi baru.

Sebagaimana tren, cara dan ekspresi beragama juga mengalami perkembangan. Jika dulu untuk mengekspresikan keberislamannya perempuan muslim cukup memakai kain kebaya plus kerudung, mulai tiga dekade lalu menjadi tak cukup lagi. Peristiwa ‘lautan jilbab’ pada awal 1990-an adalah penandanya.

Tapi, ternyata, setelah dua puluh tahun berlalu, jilbab pun tak cukup lagi. Bahkan, istilah jilbab menjadi tak ngetren lagi. Berganti dengan hijab. Dengan aneka bentuk dan ukuran. Itu pun, bagi sebagian kalangan, kini sudah tak memadai. Ada kesadaran baru yang ikut dibentuk dari cara belajar agamanya: bercadar.

Sebagaimana awal-awal jilbab menjadi ekspresi baru dalam beragama yang geger, demikian pula cadar. Sebab, jika dulu lazimnya identitas keislaman perempuan diekspresikan lewat kebaya dan kerudung, kini yang lazim adalah jilbab. Cadar bukanlah kelaziman. Dalam tradisi masyarakat Indonesia. Maka, yang mengenakan atau melarangnya akan segera mengundang pro-kontra.

Tapi, tren bisa diciptakan. Oleh siapa dengan tujuan apa. Asalkan bukan Matnecis yang berhijab atau bahkan bercadar, rasanya masih akan baik-baik saja. Sebab, jika itu dilakukan, dia pasti akan segera kehilangan semboyannya: ra necis ra mbois. (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia