Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Dulgembul Majnun

Kamis, 01 Mar 2018 18:44 | editor : Adi Nugroho

sego tumpang - radar kediri

dulgembul

Daya hidup Dulgembul sempat muncul begitu mendengar ada perempuan lain yang memerhatikannya. Si Manggar, kata Mbok Dadap. Setelah ia nyaris kehilangan daya hidup begitu kisah cintanya terhadap Menik bertepuk sebelah tangan.

Tapi, itu tidak lama. Sebab, setelah ketemu Manggar, ternyata Dulgembul ndak connect. Ndak nyambung. Ndak punya chemistry, kata bocah-bocah jaman sekarang. “Lha apa mau dipaksakan kalau aku ternyata ndak merasakan apa-apa?,” dalihnya seperti wong yang ganteng dewe sak ndonya.

Matanya justru langsung blolok-blolok begitu melihat Laila. Customer alias pelanggan baru warung Mbok Dadap. “Itu tadi siapa, Mbok?,” tanyanya begitu Laila pergi dengan sepeda ontelnya sembari membawa kresek berisi dua bungkus sego tumpang.

Mbok Dadap mesem. “Dasar kowe, Mbul. Laila, wong anyar di kampung kita.”

“Laila… Laila… Ya, Laila…!” Jawaban Mbok Dadap itu langsung menancap sedalam-dalamnya pada benak Dulgembul. Kepala, juga hatinya. Sisa sego tumpang di piring pun dia habiskan dengan konsentrasi yang sudah terpecah, berkeping-keping. Hingga tak sadar waktu hendak menggigit peyek, malah driji-nya sendiri yang dicokot. “Aduh…aduh…”

Laila. Sejak itu, tanpa disuruh, Dulgembul mencari sendiri segala informasi tentang wong wedok anyar itu. Siapa orang tuanya, rumahnya di mana, saudaranya berapa, pekerjaannya apa, kesukaannya apa, daaaan…lain sebagainya. Pokoknya untuk menguak selebar-lebarnya siapa sosok yang telah membuat hatinya mendadak terkinthil-kinthil itu.

Bukan hanya itu. Dulgembul tiba-tiba menjelma sebagai sosok yang puitis. Puisi-puisinya ia sajakkan kepada siapa saja. Bukan hanya kepada orang. Tapi, juga hewan dan tumbuhan. Makanya, orang-orang di warung sego tumpang jadi terheran-heran ketika mendadak Dulgembul bicara pada daun-daun. Atau kembang. Atau capung yang berkeliaran.

“Gembul wis edan…,” bisik mereka diam-diam.  

“Gembul wis ediaaannn…!,” teriak mereka kemudian setelah bisik-bisik sekian lama tak membuat Dulgembul berubah sedikit pun. Sebaliknya, malah cekikikan.

Obsesinya terhadap Laila memang sudah membuat Dulgembul menjadi majnun. Gendeng. Miring. Edan. Sudrun. Hati dan pikirannya dipenuhi oleh Laila. Laila… Laila… Mirip dengan kisah Laila Majnun yang dituliskan Syaikh Maulana Hakim Nidhami itu.

Karena hari berganti minggu, minggu berganti bulan Dulgembul masih saja bicara pada daun-daun, julukan edan pun kian dalam tersemat padanya. Sebagai konsekuensinya, orang-orang jadi menganggap wajar ketika Dulgembul bertindak yang aneh-aneh. Nyalawedi. Ndak umum. “Pancen wis edan...,” kata mereka.

Itu sekaligus melegitimasi Dulgembul untuk berbuat apa saja. Mau bicara pada daun, kembang, atau capung yang beterbangan, silakan. Mau tiba-tiba marah, ngamuk, atau memaki-maki, orang juga sudah tak lagi peduli. Daripada ganti marah-marah atau memaki-maki, lebih baik menghindari. Karena mereka tau, percuma saja. “Wong wis gendeng…,” ucap mereka.

Wong edan, orang menjadi mafhum, tak bisa diapa-apakan lagi. Mungkin, lebih tepatnya, tak terjangkau oleh nalar umum. Karena mereka punya nalarnya sendiri. Pada penderita skizofrenia, pikiran dan tindakannya bercampur antara kenyataan dengan halusinasi, delusi. Pada orang-orang yang mengalami ekstase, yang terasa hanya ruhani. Pikiran dan ucapan-ucapannya seolah lepas dari ragawi. Itu yang membuat orang seperti Al Hallaj ketika mengucapkan ‘ana al Haq’ atau Syekh Siti Jenar dengan ‘manunggaling kawula Gusti’ akhirnya dihukum mati.

 Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar, dua sufi yang kedanan pada Kekasihnya. Mereka berlaku nyalawedi. Ucapan-ucapannya dinilai bisa menggemparkan tatanan umum yang maqam-nya baru pada syariat. Karena itu, penguasa melakukan eksekusi.

Tapi, kepada penderita skizofrenia, penguasa tak akan melakukan hal sama. Hukum pun ogah menyentuhnya. Sebab, mereka tau, itu percuma. Ucapan dan tindakannya tak berdampak sosial apa-apa. Karena orang-orang tak ada yang memedulikannya. Hukuman pun tak akan mengubah apa-apa.

Wong edan kategori kedua inilah yang rawan dimanfaatkan. Dalam sebuah operasi rahasia. Meskipun, kadang, hanya sebatas atas nama. Dipinjam predikatnya. Ditirukan gayanya. Agar juga disebut gila. Supaya tidak dicurigai saat melancakan operasi. Supaya hukum ogah menyentuh ketika kedoknya terbuka.

“Lha Dulgembul ini masuk edan kategori mana?,” tanya Matkriwul tiba-tiba. Orang-orang terdiam. Bingung. Edan seperti Al Hallaj dan Syekh Siti Jenar, edan seperti Majnun, atau edan seperti orang-orang yang tiba berkeliaran di sekitar tempat tinggal sejumlah pemangku agama. (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia