Kamis, 13 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Travelling
Ke Turki, Menelusuri Jejak Kebesaran Islam (2)

PKL di Istanbul Bisa Berbahasa Indonesia

13 Februari 2018, 16: 48: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

umrah - radar kediri

PERJALANAN JAUH: Rombongan Rameyza Tour and Travel di Istanbul. (MAHFUD - JawaPos.com/RadarKediri)

Istanbul bisa disebut juga sebagai kota seribu masjid. Selain dikenal dengan Masjid Biru-nya, kota ini ternyata juga banyak pedagang suvenir yang bisa berbahasa Indonesia.

Hari pertama mendarat di Turki, rombongan umrah Rameyza Tour and Travel langsung menuju ke Istanbul. Begitu tiba, rombongan disambut langsung oleh Ibrahim, tour guide asal Turki yang memang disediakan oleh Rameyza Tour and Travel. Dia sangat fasih berbahasa Indonesia, sehingga para jamaah tidak perlu takut kebingungan.  

Memang, rasanya kurang lengkap bila ke Istanbul tapi tak mengunjungi Blue Mosque alias Masjid Biru. Masjid ini merupakan masjid yang cukup tua yang dibangun oleh Sultan Ahmed I. Penguasa kekalifahan Utsmania itu membangun masjid dengan interior keramik serba biru pada Abad ke-14.

Nama masjid ini sebenarnya sesuai nama penggagasnya, yakni Masjid Ahmed. Namun lebih terkenal dengan nama Masjid Biru. Merujuk pada warna kubahnya yang biru.

Masjid Biru ini berada di wilayah Kota Tua, sebuah wilayah yang paling bersejarah di Istanbul. Di Kota Tua inilah, selain Masjid Biru, juga ada Aya Sofia. Katedral yang sempat berganti fungsi sebagai masjid, sebelum befungsi sebagai museum hingga saat ini.

Karena banyak jujugan atau destinasi peninggalan Islam, wilayah Kota Tua pun jadi tujuan paling utama bagi turis asal Indonesia. Di sini, jamaah tak langsung menuju Blue Mosque. Tapi sarapan dulu di salah satu restoran di wilayah dekat area yang mirip seperti alun-alun. Restoran ini jadi tujuan rombongan umrah dari Indonesia kareana menyediakan menu Indonesia. Nama restoran itu adalah ‘Warung Ibu Deden’.

Uniknya, pemilik restoran bukanlah orang Indonesia, melainkan orang Turki asli. "Mereka sengaja menyediakan menu Indonesia karena memang mengincar target wisatawan Indonesia," jelas Ibrahim, tour guide rimbongan umrah Rameyza.

Sayangnya, jangan berharap mendapat menu Indonesia yang aneka rasa. Menu yang tersedia pun sangat umum. Seperti kemarin, menu sarapan adalah nasi goreng, nasi putih, ayam goreng, dan lalapan.

Walaupun hanya menu seperti itu, pengunjung restoran harus antre. Penyebabnya, karena yang makan di restoran itu juga banyak. Rata-rata rombongan seperti jamaah umrah Rameyza Tour and Travel.

Uniknya lagi, restoran ini boleh terbilang cukup kecil ukurannya. Hanya ada satu pintu untuk keluar dan masuk. Selain itu, lokasi restoran ini juga berada di basement, karena itu ada tangga yang menurun.

Yang menarik, di daerah Kota Tua ini ternyata mata uang rupiah relatif laku. Bila di money changer bandara petugasnya tak bisa menukar rupiah dengan lira, di tempat ini pedagang suvenir justru menerima mata uang Indonesia tersebut. Namun, harga yang ditawarkan relatif mahal. Kaus yang kualitas sangat biasa, misalnya, ditawarkan Rp 150 ribu per bijinya. "Tak boleh," ujar Elyas, seorang pedagang suvenir, saat coba ditawar.

Pernik-pernik lainnya pun demikian. Harganya masih selangit. Harga untuk satu gelang manik-manik bisa dihargai Rp 50 ribu. Sedangkan sajadah dari kain kasar bisa Rp 100 ribu. Tak hanya itu, topi musim dingin harganya juga Rp 150 ribu.

Turis Indonesia sepertinya memang jadi primadona di Turki saat ini. Khususnya bagi penjaja suvenir. Seperti di penyeberangan feri yang ada di Selat Bosphorus. Di tempat ini PKL- nya sangat agresif. Mengikuti rombongan mulai turun kapal hingga bus. "Murah. Lima puluh ribu lima," ujar seorang PKL menawarkan gelang bermanik-manik kepada rombongan jamaah Rameyza Tour and Travel.

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia