Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Pengarep-arep

Kamis, 01 Feb 2018 18:46 | editor : Adi Nugroho

sego tumpang - radar kediri
Berita Terkait

Apa yang membuat sego tumpang buatan Mbok Dadap semakin terasa nikmat? Inilah yang selalu menjadi perbincangan diam-diam mereka yang nggumunan. Nggumun terhadap orang-orang yang kedanan produk kuliner khas Kota Tahu ini.

Mereka yang bawaannya curigesyen alias negative thinking –karena pikirannya cupet, ndak mampu mikir panjang—pasti akan segera lari ke klenik. Mulai dari tuduhan daleman di balik dapur sampai tuyul di depan pintu.

Klenik memang menjadi kesimpulan yang aman bagi orang-orang yang punya pembawaan demikian. Sebab, pasti akan sulit dinalar. Sulit dibuktikan kebenarannya. “Lek gak percaya ya wis,” begitu jawaban yang dilontarkan setiap kali ada bantahan. Bar. Selesai. Ndak perlu menjelaskan yang rumit-rumit lagi. Sekalipun dia sendiri belum pernah melihat tuyulnya.

Tapi, bagi yang punya nalar panjang, pasti akan menelusuri. Mencari sebab-sebab yang masuk akal. Mendayagunakan akal yang memang dianugerahkan Tuhan untuk hal-hal demikian. Amati. Tirukan. Modifikasi. ATM. Begitu para praktisi bisnis bilang. Mengamati, menirukan, dan memodifikasi, jelas butuh nalar yang panjang.

Namun, satu yang pasti dari rahasia semakin nikmatnya sego tumpang Mbok Dadap adalah: karena dia dibikin oleh orang yang penuh harapan. Dinikmati oleh orang-orang yang juga penuh dengan harapan. Sejak dari belanja bahan ke pasar, cethik geni, mengolah, hingga menghidangkannya, Mbok Dadap selalu dipenuhi dengan harapan. Harapan untuk bisa membahagiakan orang yang menikmati sego tumpang bikinannya.

Begitu pula orang-orang yang datang ke warung Mbok Dadap. Mereka dipenuhi dengan harapan untuk bisa menikmati sego tumpang dari tangan legenda pembuat sambel tumpang itu. Agar bisa menjadi energi untuk beraktivitas tiap hari.

Harapan. Pengarep-arep. Itulah kunci dari semuanya. Tanpa harapan, jelas, Mbok Dadap tidak akan mampu melakukan semua itu. Pelanggannya pun tak akan mungkin datang ke warung. Sebab, harapan adalah energi dalam hidup. Harapanlah yang menggerakkan pikiran, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan sehari-hari.

Makanya, para pengunjung warung Mbok Dadap dibuat keheranan ketika suatu hari Dulgembul tiba-tiba tidak doyan makan sama sekali. Ia hanya nggedeblah di atas dipan sejak pagi. Dengan tatapan mata yang kosong. Tak ada yang mampu mengajaknya omong. Bahkan, mboknya sendiri.

“Ndak makan, Mbul?”

Diam..

“Sego tumpang Mbok Dadap, Mbul?”

Diam..

“Rawon, soto, gule, krengsengan, Mbul?”

Diaaammmm…

Yang ditanya tetap mbegegeg ugeg-ugeg. Padahal, itu semua adalah kesukaaan Dulgembul. Sampai simboknya khawatir kalau badannya tiba-tiba kempes. “Sudah dua hari ini begitu, Yu. Ndak mau makan apa-apa. Ndak mau ngomong sama siapa-siapa,” keluh mboknya Dulgembul kepada Mbok Dadap.

Eh, selidik punya selidik, ternyata Dulgembul baru putus cinta. Kasih tak sampai, lebih tepatnya. Cintanya ditolak Menik. Hilang sudah harapannya. Padahal, harapan bisa mendapatkan cinta Menik itulah yang membuat hidupnya terasa lebih hidup belakangan ini. Saat harapan itu tiada, mendadak semua menjadi gelap. Dulgembul kehilangan daya hidupnya.

Untunglah baru segitu dampaknya. Baru sekadar tak mau makan dan omong. Pada tingkat lebih lanjut, ketiadaan harapan bisa melahirkan kenekatan. Pada diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya. Pada diri sendiri bisa berujung pada penghilangan nyawa pribadi. Pada orang lain bisa berujung pada penghilangan nyawa sesama.

Kehilangan harapan berujung kenekatan itulah yang sepertinya terjadi pada dua kasus pembunuhan yang sedang hangat di wilayah ini. Pembunuhan perempuan bercadar dan lelaki penjaga rental. Sebuah kenekatan yang dipicu dari hilangnya harapan pribadi.

Hilangnya harapan yang bertalian dengan masalah-masalah sosial, politik, dan ekonomi bisa mengakibatkan kenekatan lebih besar lagi. Yang berdampak masal. Apalagi jika kemudian kenekatan itu dicari-carikan dalil pembenar dari agama sebagai legitimasi.

Makanya, merawat harapan menjadi penting dan senantiasa harus dilakukan. Seperti yang dilakukan Mbok Dadap begitu diwaduli simboknya Dulgembul pagi itu.

“Wong wedok sik akeh, Mbul… Itu, si Manggar diam-diam suka takon awakmu lo..,” bisiknya sambil mijit-mijit kaki Dulgembul.

Yang dibisiki seketika melek. Matanya perlahan-lahan berbinar. Lalu, “Mbooookkkk…. Aku luweeee…!” Sego tumpang pancen sik enak. Dan, selalu enak. (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia