Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Features

Mengenal Kolonel (Inf) Slamet Riadi, Danbrigif Mekanis 16/WY

Belajar Strategi Perang di Australia dan Amerika

30 Januari 2018, 13: 46: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

Kolonel (Inf) Slamet Riadi, Danbrigif Mekanis 16/WY

SIGAP: Kolonel (Inf) Slamet Riadi, Danbrigif Mekanis 16/WY. (PUSPITORINI DIAN - JawaPos.com/RadarKediri)

Meski membawahi ribuan anggota di Brigif Mekanis 16/WY, Slamet Riadi menjadi sosok yang tetap humble dan ramah. Pekan pertamanya di Kediri dihabiskan dengan melakukan silahturahmi ke tokoh masyarakat, pejabat dan pengusaha.

Puspitorini Dian H

Slamet memang baru lima minggu menjabat sebagai Danbrigif Mekanis 16/WY. Ditempatkan di Kediri, belum banyak lokasi yang didatangi pria asli Palembang ini. Tapi, untuk urusan bersilahturahmi, Slamet mengaku sudah banyak yang didatanginya. “Saya sudah bertemu sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama dan pejabat di sini (Kediri). Juga pengusaha,” tutur Slamet.

Kesan menarik pun langsung diterimanya. “Pejabat dan tokoh masyarakat di sini (Kediri) kompak. Saling mendukung. Jadi cepat akrab” terang pria 43 tahun ini.

Sejumlah kegiatan pun sudah dijalaninya. Mulai bersepeda bersama hingga acara penghijauan yang digelar Desember lalu. Selama itulah, dia merasakan karakter positif warga Kediri yang mudah welcome dengan orang baru seperti dirinya.

Karena itu, meski belum sempat mengunjungi tempat-tempat menarik di Kediri, Slamet mengaku sudah mulai kerasan. Meski sebenarnya, untuk urusan beradaptasi bukanlah hal sulit bagi Slamet. Tak lain karena sebelum akhirnya memegang tampuk tertinggi di Brigif Mekanis 16/WY, dirinya sudah berkeliling di sejumlah daerah. Di antaranya di Palembang, Cianjur, Bandung, Jakarta, Lahat dan banyak daerah lainnya. Belum termasuk sejumlah tugas operasi seperti di Aceh dan Ambon.

Tak hanya itu, bahkan sebagian pendidikannya sebelum akhirnya meraih pangkat Kolonel, dihabiskan di Australia dan Amerika. “Setelah melewati seleksi ketat, dikirim untuk pendidikan perwira lanjutan di Australia dan Amerika,” terang suami dari Henny Savitri Widiani ini.

Di dua negara itu, Slamet mendapatkan pendidikan tentang strategi pertempuran dan mengatasi konflik. “Sebenarnya, negara kita selalu mengedepankan diplomasi. Bukan dengan perang. Semuanya dipelajari,” tegasnya. Bukan sekadar belajar tentang militer, ayah tiga anak ini sebelumnya juga menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Hubungan Internasional Universitas Jenderal A. Yani dan meraih gelar sarjana ilmu politik.

Gabungan karakter dan akademik yang lengkap inilah yang akhirnya membuat Slamet mampu menempati komandan tertinggi di Brigif Mekanis 16/WY. Apalagi, sejak tahun lalu brigif yang menjadi tanggung jawabnya memang istimewa dengan tugas tambahannya sebagai Brigif Mekanis.Yaitu melaksanakan pertempuran di darat dengan menggunakan kendaraan lapis baja. Karena itu, sejumlah kendaraan lapis baja berada di markas yang berada di lereng Gunung Klotok, Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto. Ada tiga batalyon mekanis yang menjadi tanggung jawabnya. Yaitu Yonif 512/QY di Rampal Malang, Yonif 516 di Surabaya, dan Yonif 521 di Kediri.  Setidaknya ada lebih dari 2 ribu anggota yang menjadi tanggung jawabnya.

Memiliki tanggung jawab di tiga daerah tersebut,Slamet pun selalu menjadwalkan seminggu sekali melakukan kunjungan. Padatnya kegiatan inilah yang membuat Slamet harus ekstra menjaga. Tidak ada trik khusus. Slamet mengaku hanya melakukan olahraga teratur.

Ada tiga olahraga yang menjadi favoritnya. Yaitu bersepeda, renang dan joging. Semua dilakukan secara bergilir. Minimal empat hari dalam seminggu, dia harus berolahraga. Biasanya, jika bersepeda, dilakukan tiap hari. Lokasi jauh yang sudah didatanginya adalah Pare. “Daerah sini memang nyaman sekali buat sepedahan. Lingkungannya sangat mendukung,” tutur pria penyuka sepeda balap ini. Khusus bersepeda, dia sudah menyukainya sejak masih remaja. Sejumlah komunitas di Palembang, tempat dia dibesarkan telah diikutinya. “Rencananya saya terapkan seminggu sekali wajib bersepeda di sini,” tuturnya.

Kalau renang, biasanya dia melakukannya setelah joging. Tidak ada satu tempat khusus untuk berenang yang didatanginya. Hanya kolam renang umum seperti di tempat wisata Paggora. Tak lama lagi, Slamet mengaku tidak akan kesulitan mencari tempat berenang karena di lahan brigif akan dibuka area kolam renang. Sedangkan olahraga jogging sudah menjadi rutinitas yang dilakukannya. Sebagai tentara, bertubuh fit sudah menjadi kewajiban. Bahkan, setiap jenjang mencapai pangkat dan jabatan tertentu, selalu ada tes fisik. “Kalau tidak rutin, mustahil bisa melewati semua tes ini,” terang pria yang juga hobi membaca buku tentang biografi dan militer. Karena itu, Slamet selalu mengingatkan anggotanya untuk tidak pernah malas olahraga dan terlena dengan kesehatan. Sebab, tak hanya untuk menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga menunjang dalam setiap jenjang karir.

Untuk urusan makanan pun Slamet tak repot. Penyuka mi dan seafood ini hanya menghindari makanan yang mengandung lemak berlebih. Meski tidak membuat pantangan. “Semuanya tetap saya makan. Tapi ya sedikit saja,” terangnya.  

Pentingnya menjaga kebugaran tubuh dirasakan sendiri oleh Slamet. Meski dirinya tidak pernah menyangka bisa terpilih dari ratusan perwira yang menginginkan jabatan danbrigif. Pria yang juga lulusan akmil 1996 ini mampu terpilih menjadi satu dari total 16 brigif di seluruh Indonesia. “Sebenarnya kuncinya adalah kita selalu belajar dengan sebaik-baiknya dan serius, sehingga selalu siap menjalani tes,” sarannya.

Lulusan SMAN 3 Bandung ini mengaku bersyukur dan berharap bisa mengemban tugasnya dengan sebaik-baiknya. Termasuk menjaga keamanan saat proses pilkada serentak pada Juni nanti.

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia