Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Petani Cabai Desa Kampungbaru, Puncu, Lawan Serangan Virus Kuning

Pakai Pestisida Minyak Cengkih, Daun Hijau Lagi

Rabu, 10 Jan 2018 18:29 | editor : Adi Nugroho

hama kuning - radar kediri

BASMI HAMA: Petani menyemprot tanaman cabainya yang terkena virus kuning dengan minyak cengkih di Desa Kampungbaru, Puncu, kemarin. (M FIKRI ZULFIKAR - RadarKediri/JawaPos.com)

Ketika lahannya terserang virus kuning sejak November 2017 lalu, petani cabai di Desa Kampungbaru, Kecamatan Puncu sempat panik. Lahan sempat dibongkar. Pestisida kimia digunakan. Namun tanaman tetap rusak. Daunnya menguning dan mengeriting.

MOH. FIKRI ZULFIKAR

Pagi masih menunjukkan dinginnya. Sinar mentari seakan malu-malu menunjukkan hangatnya. Namun para petani sudah bergegas ke ladang. Sebagian membawa perbekalan yang dimasukkan rantang besi. Cangkul hingga tangki semprot pun tergantung di punggungnya.

Mereka adalah petani Desa Kampungbaru, Kecamatan Puncu yang sedang bersemangat mengawali aktivitas. Sebab Selasa pagi kemarin (9/1), petugas Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri datang memberi solusi atas masalah mereka selama satu bulan ini.

Yakni pengendalian virus kuning yang merusak tanaman cabai. Virus yang dibawa hama kutu kebul itu membuat daun menguning dan mengeriting. Akibatnya, tanaman tidak berbuah lagi.

Melihat areal di sentra-sentra cabai Kabupaten Kediri –seperti di Puncu dan Kepung– dispertabun memberi solusi cara memerangi virus dengan pestisida nabati. Ini lebih aman daripada pestisida kimia.

“Kami coba berikan cairan minyak cengkih agar tanaman cabai kondisinya bisa pulih lagi,” ungkap Kabid Holtikultura Dispertabun Kabupaten Kediri Anang Widodo saat ditemui di lokasi.

Di lahan cabai, petugas pengendalian virus langsung memberikan olahan minyak cengkih yang dikemas dalam botol bekas air mineral. Oleh para petani, sebagian cairan dicampur dengan air. Lalu dimasukkan tangki semprot.

“Setelah diracik langsung disemprot ke tanaman cabai yang kena virus kuning. Insya Allah tanaman akan pulih,” terangnya.

Pengendalian virus kali ini memang melalui pendekatan dengan pestisida nabati. Ini karena penggunaan pestisida kimia sudah terlalu jenuh. Tampaknya, dispertabun ingin membiasakan cara penanganan lebih ke organik yang lebih aman bagi tanaman maupun petani.

“Dengan minyak cengkih ini kandungan zatnya berupa eugenol juga mampu memperbaiki struktur tanaman yang rusak,” terang pria yang kala itu memakai topi berlambang negara Indonesia.

Minyak cengkih sudah biasa digunakan untuk tanaman keras seperti di perkebunan. Minyak itu manjur untuk tanaman keras sebagai pestisida bakteri dan hama. Makanya dispertabun pun mengaplikasikan pada tanaman cabai yang terkena virus kuning.

“Awalnya telah kita lakukan percobaan di sentra Kebonrejo, Kepung. Hasilnya memuaskan. Kini akan kita sebarluaskan, termasuk di Kampungbaru ini,” papar Anang.

Dari percobaan awal di Kebonrejo terlihat perkembangannya signifikan. Awalnya, para petani kebingungan. Lantaran tidak tahu cara menangani virus kuning, mereka sempat membongkar lahannya. Lalu diganti tanaman baru.

Namun setelah lahan disemprot minyak cengkih, daun yang menguning menjadi hijau. “Terlihat respons dari sisi klorofilnya. Daun yang awalnya menguning kemudian berfotosintesis dengan optimal. Sehingga produksi lebih baik,” ungkap Anang.

Selain daun menghijau, tunas-tunas baru dan batang tanaman cabai pun memanjang. Dalam seminggu percobaan, responsnya terus positif. “Melihat suksesnya percobaan awal itu kini kita terapkan masal di Kampungbaru. Kita prediksi satu sampai dua minggu ke depan tanaman cabai di sini pulih kembali,” terang Anang.

Untuk meracik sendiri pestisida minyak cengkih cukup mudah. Petani bisa beli minyak cengkih satu liter di toko kelontong atau apotek. Minyak itu bisa digunakan untuk luas lahan 100 hektare. Agar performa optimal, racikan minyak cengkih dengan takaran 0,25 mililiter (ml) dicampur dengan 0,25 ml sabun cuci rendah deterjen atau satu banding satu.

Kemudian dilarutkan dengan satu liter air. “Untuk sabun cuci campurannya itu kita pakai sabun Mama Lemon atau Sunlight,” ujarnya.

Racikan minyak cengkih ini memang tak bisa langsung membunuh hama kutu kebul. Namun cukup efektif mengembalikan hijau daun agar optimal. Lantas bagaimana membasmi hamanya? Anang pun memberikan arahan agar petani memberi perangkap likat kuning yang bisa menarik perhatian hama. Saat hama datang akan tertempel dan tidak bisa kabur.

“Likat kuning juga cara alami tanpa kimia. Jadi cara yang kita beri saat ini kita arahkan lebih ke organik,” terangnya.

Sebenarnya ada cara lain untuk membuat racikan minyak cengkih. Yaitu menggunakan daun cengkih. Komposisinya, daun cengkih 1 kilogram (kg) dicampur 4 liter air, kemudian diblender. Setelah direndam selama dua hari, racikan tersebut bisa langsung digunakan.

Joko, petani Desa Kampungbaru yang juga ketua Kelompok Tani Jaya, mengaku, lahannya terserang virus kuning sejak November. Dia telah melakukan berbagai upaya melawan demi memulihkan tanaman cabainya. Namun hasilnya tetap saja tanamannya rusak.

“Awalnya ada sales yang memberitahu ada pestisida yang bisa melawan virus ini,” katanya saat ditemui setelah pengendalian virus kuning bersama.

Saat diterapkan, hama kutu kebul memang bisa mati. Tetapi setelah penggunaan pestisida kimia itu, daun tanaman mulai menguning dan mengeriting. Kini dengan minyak cengkih, Joko berharap, bisa memulihkan tanamannya. Sehingga produksi cabainya kembali optimal.

“Semoga bisa pulih Mas. Sudah bingung kita hadapi virus kuning ini,” tegasnya.

(rk/fiz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia