Jumat, 16 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

.....Resikan.....

Kamis, 04 Jan 2018 12:42 | editor : Adi Nugroho

.....Resikan.....
Berita Terkait

Enaknya sak ndonya, itu sudah bukan rahasia lagi dari sego tumpang bikinan Mbok Dadap. Itu pula yang bikin warungnya selalu ramai setiap kali buka.

Namun, bukan hanya itu yang menjadi pengundang orang-orang untuk datang. Melainkan, ada banyak hal lain. Selain blater-nya, salah satunya adalah resikan-nya. Sejak sebelum buka, selama buka, dan setelah buka alias tutup kembali, warungnya selalu resiiik…

Memang, tidak kinclong seperti resto-resto mewah yang gemerlap. Akan tetapi, ini resik yang alami dan menenteramkan hati. Resik, bukan hanya di bagian depan warungnya. Melainkan, juga resik hingga bagian dapur dan belakang warung. Resik pengolahannya. Resik pula penyajiannya.

Itu semua bisa bertahan karena memang sudah menjadi kebiasaan. Sudah jadi bagian yang inheren dari diri Mbok Dadap sejak masih belia. Mbok Dadap prawan, memang sudah dikenal resikan. Oleh siapa pun. Termasuk para pemuda desa. Makanya, jaman itu, ndak ada pemuda kumus-kumus yang berani mendekatinya.

Mbok Dadap pancen mbuh untuk hal-hal seperti itu. Orang jaman sekarang bilang, selalu perfect. Kepada anak, keponakan, atau rewang yang membantunya, ia selalu cerewet soal kebersihan.

Kepada pelanggan yang ndak resikan pun, Mbok Dadap pasti akan ngaruh-aruhi. Termasuk, ngaruh-aruhi kalau ndak mau menghabiskan makanannya sampai bersih.

Bukan hanya karena mubazir. Tapi, sisa makanan yang ndak dihabiskan pasti jadi sampah. “Ayo, Le… Dihabiskan. Apa sego tumpang Mbok’e ndak enak?.” Kalau sudah begitu, yang diaruh-aruhi biasanya terus sungkan. Lalu, segera menandaskan sisa-sisa sego tumpang yang belum dihabiskan.

Yang bikin judeg adalah jika ada pelanggan yang sak karepe dewe. Sudah sego tumpangnya ndak dihabiskan, buang bungkus makanan juga sembarangan. Padahal, di bawah meja tempat dia makan sudah disediakan tempat sampah. Sebab, itu akan jadi tugas rewang Mbok Dadap sebelum pelanggan baru datang.

Makanya, waktu musim liburan sekolah kemarin, Mbok Dadap juga sempat judeg. Sekaligus malu. Maklum, banyak orang luar kota yang singgah. Mereka adalah para perantau yang pulang. Juga, orang-orang yang baru pertama kali datang.

Apa yang dilihat oleh mereka, akan menjadi kesan mendalam. Bahkan, tak jarang menjadi kesimpulan. Karena itu, Mbok Dadap ‘mati-matian’ menjaga warung sego tumpangnya. Yang enaknya sak ndonya. Yang resikan dalam pengolahan hingga penyajian.

Sebab, sekali dia dikenal ndak enak dan ndak resikan, kesan itu yang akan dibawa oleh orang-orang luar kota ke tempat asalnya. Dan, bukan hanya kesan tentang warungnya. Tapi, otomatis juga kesan tentang kotanya. Resik ketitik, ala ketara.

Nah, yang bikin judeg, sementara Mbok Dadap ‘mati-matian’ menjaga citra warungnya –yang akan berpengaruh pada citra kotanya, lha kok ndilalah taman dan tempat-tempat jujugan wisata justru sebaliknya. Baru ‘setengah mati’ menjaganya.

Itu bukan hanya soal pemerentah dan aparaturnya. Tapi, juga soal perilaku pengunjungnya. Perilaku warganya. Yang tetap buang sampah sembarangan meski sudah ada tempat sampah yang tersedia di dekatnya. Yang iseng mecahi kaca lampu taman karena penasaran kelap-kelipnya. Juga, yang suka ‘membersihkan’ bak-bak sampah baru hingga hilang dari tempatnya.

Akibatnya, sesaat tamu-tamu itu terkesima melihat perkembangan wilayah ini, mereka lalu dibuat gela. “Sayang, kurang bersih,” komentar mereka. Yang paling membuat ‘mak dhieg’ adalah waktu ada tamu yang menikmati taman kebelet pipis, lalu masuk toilet. Begitu keluar toilet, ia terkesima. Lalu, bilang, “Kediri ini ada-ada saja. Ada toilet yang tak keluar airnya.” (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia