Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Nggulawentah

Jumat, 22 Dec 2017 18:17 | editor : Adi Nugroho

sego tumpang - radar kediri
Berita Terkait

Soal nggulawentah bocah, Mbok Dadap ndak usah ditanya lagi. Sudah tuwuk. Maklum, bukan hanya anak-anaknya. Akan tetapi, juga keponakan-keponakannya yang sejak kecil ikut dengannya. Watak, watuk, dan wahing tiap anak dia hafal luar kepala.

Dan, yang hebat, sak ndableg-ndableg-nya bocah, pasti lulut dengan Mbok Dadap. Manut. Ndak ada yang berani melawan. Itulah yang bikin mbok-mbok lain geleng kepala. Sambil mengacungkan dua jempolnya.

“Kalau aku, Mbok, ndak sanggup ngopeni bocah-bocah ndableg seperti itu. Ndak sangguuupp…!,” kata Yu Kanthil sambil mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi. Dua anaknya yang masih kecil wareg di-cethoti kalau ndak nurut. Ulah mereka memang sering bikin Yu Kanthil geregetan.

Makanya, waktu gurunya wadul tentang anaknya kala rapotan, bakul janganan itu hanya bisa ngelus dada. Sambil menahan malu. Lalu, pasrah dan justru mendukung saat gurunya marah-marah demi mendisiplinkan sang anak. Walau, cara itu belum juga mampu mengubah si bocah. “Sudah, terserah. Mau diapakan saja, silakan. Saya di rumah sudah angkat tangan,” ucapnya.

Mbok Dadap hanya mesem mendengarnya. Maklum, baru dua anak, sambat-nya sudah tidak karuan. Gurunya juga begitu. Mendidik dan mendisiplinkan anak kok hanya mengandalkan marah-marah. Ndak punya banyak metode. Pendekatan. “Tiap bocah itu dilahirkan dengan keunikan masing-masing,” katanya membuka satu kunci dari pendidikan yang diterapkannya di rumah.

Ya, memahami bahwa tiap anak memiliki keunikan sendiri itulah yang menjadi dasar Mbok Dadap untuk nggulawentah para bocah di rumahnya. Sebab, tanpa pemahaman tersebut, sulit baginya untuk bisa mengarahkan dan mendidik mereka. “Karena tiap bocah punya karakter sendiri-sendiri, kita juga ndak bisa mendidik mereka dengan cara yang seragam. Pendekatannya harus berbeda-beda,” tuturnya seolah menjelma dosen mata kuliah psikologi pendidikan.

Karena itulah, bagi Mbok Dadap, ndak ada istilah bocah nakal atau ndableg. Kalaupun mereka tidak mau menuruti karep orang yang lebih dewasa, belum tentu karena ingin membangkang. Melainkan, jangan-jangan karena pola pendekatannya yang kurang tepat.

Di situlah sebenarnya tantangan bagi orang tua dan para pendidik. Mereka yang tak punya banyak referensi, biasanya hanya mengandalkan marah-marah. Sebab, kemarahan ibarat pentungan untuk pelaku kejahatan. Fungsinya untuk menakut-nakuti. Menundukkan. Harapannya, segera muncul kepatuhan. “Padahal, kalau terlalu sering dipendeliki atau dicethoti, bocah bukannya takut. Malah muncul keberanian untuk melawan,” kata bakul sego tumpang yang enaknya sak ndonya itu.

“Lha sampeyan apa ndak pernah marah atau nyethoti to, Mbok?,” tanya Yu Kanthil penasaran.

Mbok Dadap tersenyum lagi, “Ya pasti pernahlah. Apalagi bocah sak hohah kayak gitu.” Cuma, marahnya Mbok Dadap bisa diukur. Bukan sedikit-sedikit marah. Kalau sudah ndak bisa dikandhani, biasanya dia tidak langsung marah. Akan tetapi, mencari tau kenapa si bocah ndak mau dikandhani.

Tidak jarang, Mbok Dadap harus ikut karep-nya si bocah dulu. Agar tau apa yang dia mau. Setelah itu, barulah si Mbok masuk dengan pesan-pesannya. Dan, mengena. “Kadang, bocah hanya mau didengarkan dulu,” tuturnya.

Hal-hal seperti itu yang sering membuat orang tua seperti Yu Kanthil atau sebagian guru anak-anaknya tidak srantan. Maklum, butuh waktu dan kesabaran ekstra. Padahal, maunya mereka thas-thes. Disuruh begini-begitu, anak segera nurut. Toh, itu untuk kebaikan mereka. “Tapi, kita ini kan bukan mesin, Nduk…,” ucap Mbok Dadap kepada Yu Kanthil.

Mesin, bisa mencetak bahan baku menjadi barang jadi sesuai setelannya. Bahan baku yang ndak sesuai setelan, pasti ndak bisa diproses. Dibuang. “Lha apa kamu mau anak-anak atau muridmu jadi barang afkiran?,” tanya Mbok Dadap.

Padahal, belum tentu barang yang dianggap afkiran tak bisa membawa manfaat. Bisa jadi, karena mesinnya yang tak cocok untuk memprosesnya. “Apalagi ini anak yang setiap kelahirannya sudah pasti istimewa. Dan, pasti bisa menjadi istimewa jika kita benar dalam memprosesnya,” lanjutnya.

“Lihatlah pesantren-pesantren salaf itu,” lanjut Mbok Dadap. “Kiai-kiainya ndak ada yang pernah menolak santri. Siapa pun dia, bagaimanapun kelakuannya. Sebab, kiai-kiai itu selalu siap menjadi apa saja untuk mencetak santri-santrinya.”

“Satu lagi,” sambung Mbok Dadap lagi, “Para kiai punya kekuatan doa dari keikhlasannya untuk mendidik para santri. Doa dan keikhlasan. Itu yang sering tidak kita miliki untuk anak-anak kita saat ini…” (tauhid wijaya)

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia