Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Unggah-Ungguh

Kamis, 12 Oct 2017 10:26 | editor : Adi Nugroho

Unggah-Ungguh

Mbok Dadap memang terkenal blater. Ramah kepada siapa saja. Juga rendah hati. Dalam soal mencari rejeki pun, ia selalu terbuka. Tak pernah menutup diri. Apalagi ingin menguasai semuanya sendiri. Toh, dulu, waktu mulai merintis warungnya, ia juga ditolong oleh orang lain.

“Sampeyan mau buka di sini? Silakan. Di sebelah situ masih ada tempat. Kalau ada apa-apa, nanti omong saja ke aku,” katanya waktu Yu Menik juga mau buka warung sego tumpang di dekat warung Mbok Dadap.

Hal-hal seperti itu yang membuat bakul sego tumpang seperti Yu Menik semakin segan kepada Mbok Dadap. Sebagai junior, pendatang baru, ia menaruh hormat tinggi-tinggi kepada senior bakul sego tumpang yang enaknya sak ndonya itu. Apalagi, Mbok Dadap tidak segan membantu jika dia punya masalah.

Makanya, bukannya bersaing –yang bisa saling bunuh untuk mengalahkan, Yu Menik justru malah sering berkolaborasi dengan Mbok Dadap. Kalau sego tumpangnya habis lebih dulu, Mbok Dadap pasti merekomendasikan pelanggannya untuk datang ke warung Yu Menik. Begitu pula sebaliknya.

“Sudah, ke warung Menik saja. Rasane podo,” kata Mbok Dadap memberi rekomendasi.

“Wah, sudah habis. Ke warung Mbok Dadap saja, lebih mantap di sana,” begitu Yu Menik memberi saran.

Yang bikin nggondok itu kalau ada pendatang baru tapi pethitha-pethithi. Ndak punya unggah-ungguh. Yang diatasnamakan adalah kebebasan pasar, yang memang ndak kenal dengan unggah-ungguh. Sepanjang dia punya uang, punya sumberdaya, ndak ada yang boleh menghalangi jika ingin buka warung sego tumpang. Jejer dengan warung Mbok Dadap sekalipun. Wong pasar itu bebas.

Padahal, seandainya kulanuwun –sebagai bentuk unggah-ungguh, Mbok Dadap pasti akan mempersilakan. Bahkan membantunya dengan senang hati. Sebab, sudah menjadi kesadarannya yang terdalam bahwa rejeki mempunyai jalannya sendiri-sendiri. Itu sudah menjadi hal yang selesai dalam dirinya sendiri. “Rejeki, jodoh, dan kematian sudah digariskan sejak manusia lahir ke bumi. Tinggal kita mau mengupayakannya sejauh mana,” katanya.

 Unggah-ungguh, etika, itulah yang sering hilang dalam praktik bisnis sehari-hari. Bahkan dianggap tak perlu karena hanya akan menjadi penghalang.  Sebab, yang ada dalam bisnis adalah persaingan. Persaingan dan persaingan. Untuk saling mengalahkan. Padahal, unggah-ungguh adalah bagian dari blue ocean  seperti disebut Kim Chan dan Renee Mauborgne. Bisa saling menguatkan.

Unggah-ungguh itu pula, sepertinya, yang tak tampak dalam bisnis ojek online yang baru muncul di kota ini. Selain belum adanya regulasi, hal itulah yang memicu bentrok di lapangan. Sebagai pendatang baru, pemilik bisnis ojek online merasa tak perlu untuk kulanuwun kepada para pemilik ojek konvensional.

Padahal, kulanuwun bukan hal yang sulit dilakukan. Bahkan, para pemilik ojek konvensional bisa dirangkul untuk berkolaborasi. Bergabung dengan onlinenya. Atau, kalaupun tak mau dan tak mampu mengadaptasi bisnis ojek model baru itu, setidaknya sudah di-‘kulanuwun’-i. Itulah yang bisa meredam potensi konflik di lapangan.

Memang, sistem yang dihadirkan oleh ojek online banyak menjawab kebutuhan konsumen. Machine to machine. Lalu, human to human. Itulah yang dipraktikkan pengelolanya. Penyedia jasa dan penggunanya dikoneksikan dengan mesin. Aplikasi. Membuat segalanya menjadi tidak ribet. Mudah. Ada kepastian. Bahkan murah. Interaksi antara pengemudi dan pelanggan pun diperhatikan. Pelayanan dibuat standar. Ramah dan menyenangkan.

Cuma, problemnya, human to human baru terjadi antara pengemudi dan pelanggan. Belum dengan sesama pelaku bisnis serupa, tukang ojek konvensional dan tukang becak. Padahal, tak bisa dimungkiri, di lapangan, interaksi human to human antarpelaku pasti juga terjadi. Dan, ujungnya akan lari kepada pelanggan juga.

Sementara, pelanggan tak bisa disalahkan. Mereka berhak untuk memilih layanan terbaik. Masalahnya adalah, jika begitu turun bus atau keluar stasiun kereta api yang dijumpai justru bentrok antarpengemudi, lalu apa gunanya aplikasi? (tauhid wijaya)

(rk/die/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia