Senin, 19 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Features

Andik Wijaya Lindungi Bangunan Tua di Pare lewat Cerita Mistis

Rumah dan Cerobong Kuno Aman dari Corat-coret

Rabu, 11 Oct 2017 16:24 | editor : Adi Nugroho

foto bekas pabrik susu radar kediri

HOBI NYELENEH: Andik Wijaya wawancara dengan warga saat mengunjungi bangunan bekas pabrik susu di Desa Pelem, Kecamatan Pare (7/10). (RIZAL ARI ANDANI - RadarKediri/JawaPos.com)

Bekerja di bank, Andik Wijaya punya hobi nyeleneh. Demi melestarikan peninggalan sejarah, ia meluangkan banyak waktunya untuk berburu dan menyebarluaskan kisah urban legend. Bagaimana ceritanya?

RIZAL ARI ANDANI

Sabtu sore (7/10) sekitar pukul 16.00 Jawa Pos Radar Kediri tiba di area kebun bibit milik Dinas Pertanian Kabupaten Kediri. Tepatnya, di tepi Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa, Kelurahan/Kecamatan Pare. Namun, tujuannya bukan untuk membeli benih tanaman. Melainkan melihat-lihat bangunan loji peninggalan zaman penjajahan Belanda yang berdiri di belakang kebun tersebut.

Meski langit masih terang benderang, suasana sunyi sangat terasa di sana. Maklum, rumah peninggalan masa lalu itu lama dikosongkan. "Selain itu, hujannya juga baru reda. Karena itu tidak ada orang beraktivitas di sini," ujar Andik Wijaya.

Dengan kondisi demikian, umumnya orang merasa enggan berlama-lama di sana. Aplagi, lokasinya terkenal angker. Namun tidak dengan Andik. Karyawan bagian penagihan bank perkreditan rakyat (BPR) di Pare itu tampak biasa saja. Dia seolah tak ragu saat mengajak wartawan koran ini berkeliling di sekitar lokasi. Termasuk melihat kondisi di dalam bangunan bekas kantor itu.

Andik kemudian menjelaskan tentang mitos-mitos yang beredar di masyarakat terkait lokasi bekas pabrik susu tersebut. Misalkan saja cerita soal makhluk gaib berwujud hitam besar yang pernah menampakkan wujudnya pada warga sekitar. "Kata juru kuncinya, kalau ingin berinteraksi secara langsung bisa. Syaratnya, harus bermalam di sini dengan membawa sebungkus rokok Gudang Garam merah (sebagai sesaji)," ujar pria 41 tahun asli Desa Pelem, Pare tersebut.

Kisah mistis itu diperoleh Andik dari wawancara dengan sejumlah warga Desa Pelem. Lebih tepatnya, mereka yang tinggal di sekitar lokasi. Selain di lokasi kebun bibit, Andik sudah banyak mendatangi lokasi lain di Kecamatan Pare. Terutama yang memiliki nilai sejarah kuat di masyarakat. Misalkan area Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) di Desa Pelem, rumah kuno kosong di Desa Sidorejo, Pare, dan rumah kosong dekat Pasar Pemenang Pare.

Ada pula yang di luar Pare yang pernah ia catat kisah urban legend-nya. Seperti, bekas bangunan pabrik gula di Desa Kencong, Kepung. "Sebenarnya masih banyak lainnya Mas," ujar bapak dua anak ini. Kunjungan ke tempat yang dianggap angker itu rutin seminggu sekali. "Biasanya sepulang kerja," ujarnya.

Di sana Andik menyempatkan masuk dan mengambil gambar dengan kamera ponselnya. Soal lokasi ia mendapat rekomendasi dari teman dan kenalannya. Menghimpun cerita sejarah di balik tempat yang didatanginya, Andik melakukan wawancara langsung dengan warga sekitar. Itu butuh waktu sampai berjam-jam.

Padahal, sang istri juga bekerja. Maka terkadang Andik pun harus mengasuh anak bungsunya yang masih SD. Tak jarang si anak diajak menjalani hobinya. Seperti saat mengunjungi rumah loji di belakang kebun bibit. Anak perempuannya itu pun diajak. Begitu pula saat mendatangi bekas bangunan pabrik gula di Desa Kencong, Kepung. “Waktu itu anak saya takut. Dia merengek minta pulang. Kalau sudah begitu, ambil fotonya harus cepat-cepat,” papar Andik.

Meski begitu, aktivitas nyelenehnya tidak mendapat penolakan dari anaknya. Nyatanya dia masih mau ikut. Andik berharap, kalau sudah besar anaknya bisa lebih menghargai lempat-tempat bersejarah.

Hasil dari hobinya, foto dan wawancara ditulis menjadi teks narasi. Kemudian naskah dikirim ke komunitas sebagai bahan diskusi. Ya, Andik tergabung dalam Komunitas Ringinbudo Pare (RBP). Cerita misterinya di-posting lewat grup aplikasi WhatsApp tiap Kamis. Kisah urban legend hasil buruannya selalu ditunggu. "Kalau tidak kirim, biasanya mereka bertanya-tanya," urainya.

Dahulu, Andik yang pernah menjadi kontributor radio swasta di Pare sering diminta menyiarkan kisah-kisah mistisnya. Jadwalnya tiap Kamis. "Tapi beberapa tahun terakhir ini programnya sudah berhenti," ungkapnya.

Meski begitu, berburu urban legend tidak mudah. Seperti ketika mencari info cerita yang menyelimuti kamar mayat di RSUD Pare. "Ada mitos keberadaan makhluk halus berwujud perempuan di sana," ujarnya. Konon, makhluk itu akan menampakkan diri sesaat sebelum ada pasien meninggal dunia.

Tetapi saat akan menggali informasi, petugas medis dan karyawan RSUD enggan bicara. Bahkan ibu kandungnya yang merupakan pensiunan petugas medis rumah sakit itu pun menolak berkisah soal urban legend tersebut. "Mereka seperti menutup-nutupi soal keberadaan mitos itu," katanya.

Toh akhirnya Andik berhasil menemui perawat yang mau berbagi kisah soal mitos itu. “Sudah saya tulis dalam bentuk narasi dan saya bagikan ke komunitas,” ujar pria bertubuh subur itu.

Sejak masih SMA, Andik senang dengan pelajaran sejarah. Terutama yang ada kaitannya dengan mistis. "Bagi saya keberadaan urban legend adalah salah satu bagian dari sejarah itu sendiri," ucapnya. Maka setelah lulus dan bekerja di bank, Andik mulai berburu kisah mistis di tempat-tempat yang dianggap bernilai sejarah.

Baginya, urban legend memiliki fungsi menjaga suatu peninggalan sejarah. "Misalkan terhadap bangunan rumah di belakang kebun bibit. Dengan adanya urban legend masyarakat tidak berani merusak atau mencorat-coret peninggalan rumah dan cerobong kuno di sana," paparnya.

Selain rumah, memang ada cerobong asap kuno peninggalan era kolonial di sana. Namun wujudnya kini sudah berubah menjadi tugu bertuliskan "Balai Pendidikan Masjarakat Ketjamatan Paree".

Kini Andik terus melakukan rutinitas berburu urban legend meski aktivitas itu tidak menghasilkan pundi-pundi rupiah. “Yang jelas, saya akan mempertanggung jawabkan cerita saya. Setidaknya, jika tidak percaya saya bisa mengajak teman-teman bertemu narasumbernya,” urainya.

(rk/rzl/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia