Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 69

Membelah Lamajang Tigang Juru

02 Oktober 2017, 15: 08: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

“Wilayah kajuruan Bayu dengan kutaraja di Sadeng, dipimpin oleh Jurupati Bayu yang berkuasa atas wilayah Bayu”

Tidak ingin kalah telak dan dipermalukan, Dyah Halayudha tanpa terduga menghaturkan sebuah rencana yang sangat bermanfaat bagi penguatan kekuasaan Wilwatikta dari kemungkinan rongrongan dan gerakan ketidak-setiaan dari kerajaan-kerajaan sakawat-bhumi.

Pertama-tama, menurut Dyah Halayudha, kekuasaan Jurupati Lamajang Tigang Juru harus dikurangi dengan memecah Tiga Wilayah Kajuruhan – Lamajang, Bayu dan Wirabhumi – menjadi wilayah yang berdiri sendiri.

Maksudnya, Kajuruan Lamajang dipimpin oleh Jurupati Lamajang dengan kutaraja di Kutarenon, di mana wilayah kekuasaannya hanya sebatas wilayah Kajuruan Lamajang. 

Wilayah kajuruan Bayu dengan kutaraja di Sadeng, dipimpin oleh Jurupati Bayu yang berkuasa atas wilayah Bayu. Wilayah kajuruan Wirabhumi dengan kutaraja Ketah, dipimpin oleh Jurupati Wirabhumi yang berkuasa atas wilayah Wirabhumi. Ketiga wilayah Juru itu, adalah bawahan Wilwatikta.

Sri Baginda Maharaja Jayanagara yang menerima saran Dyah Halayudha sebagai usulan yang masuk akal untuk membagi wilayah Lamajang Tigang Juru sebagai tiga wilayah yang masing-masing berdiri sendiri.

Itu sebab, Sri Baginda Maharaja Jayanagara memaklumkan penobatan Nararya Wangbang Menak Koncar putera Arya Adikara Wiraraja menjadi Jurupati Lamajang; Rakyan Menteri  i  Hino Dyah Pamasi sebagai Jurupati Wirabhumi  dan  Rakyan Menteri i Halu Dyah Singlar sebagai Jurupati Bayu.

Bahkan untuk melemahkan Kajuruan Lamajang, Sri Baginda Maharaja Jayanagara atas hasutan Dyah Halayudha, menobatkan Nararya Kudamisani Ranamanggala sebagai Jurupati Paguwan, yang wilayahnya terbentang di timur Kutarenon hingga perbatasan sebelah barat wilayah Bayu.

Keberhasilan mempengaruhi maharaja membelah Lamajang Tigang Juru menjadi empat wilayah yang masing-masing dipimpin oleh Jurupati sendiri yang tunduk di bawah daulat Maharaja Wilwatikta, tidak membuat Dyah Halayudha berpuas diri.

Dengan dalih untuk memperkuat kedudukan maharaja dengan dukungan abdi kerajaan yang setia, hendaknya dipilih para ksatria unggul yang memiliki keikhlasan brahmana dalam mengabdikan diri kepada maharaja. Hanya ksatria yang tulus tan pamrih dalam mengabdi yang dapat dipercaya menjadi abdi maharaja. Sementara, akibat kehendak dewata, ksatria yang tulus tan pamrih dalam mengabdi adalah ksatria-ksatria muda teruna yang dapat memahami makna kebesaran dalam perubahan. (bersambung)  

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia