Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 66

Perkelahian yang Tidak Seimbang

28 September 2017, 21: 19: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

“Dyah Rangganata tidak meladeni tantangan Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi. Sebaliknya, ia perintahkan para prajurit menyerangnya beramai-ramai”

Pada saat Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dan Jaran Bangkal berteriak-teriak agar bala pasukan Majapahit menghentikan serangan karena ada kesalah-fahaman, dua tiga anak panah justru melesat ke arah leher Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi, yang tidak mengenai sasaran tetapi menancap di tiang saka yang menopang atap pendapa. 

Bahkan sekumpulan prajurit bertombak dan berpedang menerjang ke arah Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dan Jaran Bangkal dengan serangan-serangan serempak yang mematikan. 

“Bunuh!”

“Jangan biarkan para pengkhianat hidup!”

“Habisi semua!”

Sadar bahwa usahanya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sudah sia-sia, Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi melompat ke belakang sambil mencabut keris pusakanya. Ia sudah memutuskan untuk mati secara terhormat dengan menghadapi lawan yang seimbang, di mana dengan hardikan keras ia menantang Dyah Rangganata, “Manusia rendah, budak Mahapati, lawanlah aku jika engkau seorang ksatria! Ayo hadapi aku!”

Dyah Rangganata tidak meladeni tantangan Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi. Sebaliknya, ia memerintahkan para prajurit untuk menyerangnya beramai-ramai. “Habisi pengkhianat itu!”

Seperti kawanan harimau menyergap mangsa, para prajurit Magalah dan Mamedang menyerang Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dan Jaran Bangkal, yang dengan kemampuan seadanya melakukan perlawanan. 

Saat itulah, tiba-tiba dari dalam ruang tengah kediaman Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi menghambur Panji Anengah, Panji Samara dan Panji Wiranagari yang dengan senjata terhunus menyerang para prajurit yang mengeroyok Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dan Jaran Bangkal. Bahkan Panji Wiranagari sempat memburu Dyah Rangganata yang dilindungi para pengawalnya. 

Dalam perkelahian yang tidak seimbang itu, di mana lima orang pahlawan besar Majapahit yang sudah tua dikeroyok beratus-ratus pasukan penombak dan pasukan pemedang Majapahit, sehingga dalam waktu tidak lebih dari hitungan jari, semuanya gugur bersimbah darah dengan tubuh hancur dipenuhi luka sabetan pedang dan tikaman tombak. 

Belum puas dengan kematian para pahlawan yang dianggap pengkhianat itu, bala pasukan bertombak dan berpedang itu menerobos masuk ke dalam rumah Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi. 

Pada saat mereka menemukan perempuan dan anak-anak, keluarga dari Mahapatih Mangkubhumim Arya Nambi, seluruhnya ditebqas habis tanpa sisa. Bahkan setelah itu, para prajurit dengan ganas membakar kediaman Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi beserta bangunan-bangunan yang berdiri di sekitarnya. (bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia