Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 55

Mempertahankan Benteng Pajarakan

17 September 2017, 09: 30: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Mempertahankan Benteng Pajarakan

“Saat hampir duapuluh prajurit berkuda Majapahit terbunuh dan belasan luka parah, pertempuran terus berlangsung dengan korban lebih seratus prajurit Lamajang”

          Dyah Halayudha merasakan darahnya menyembur di ubun-ubun saat menyaksikan pasukan berkudanya terbunuh oleh perlawanan prajurit Lamajang yang dipimpin Pamandana.

Dengan keris terhunus, ia memacu kudanya ke depan, menyerang pasukan Lamajang yang menghadang dengan tombak teracung ke arah depan. Namun prajurit berkuda di sekitarnya mencegahnya dengan menarik tali kekang kudanya, sambil berteriak,

“Yang Mulia mohon menepi! Biar kami yang menghabisi cacing-cacing rendah ini!”

          Jalan sempit di tengah Pajarakan yang menjadi arena pertempuran sengit antara pasukan berkuda Majapahit pimpinan Dyah Halayudha dengan prajurit Lamajang yang dipimpin Pamandana menjadi medan pertempuran paling berdarah. Sebab sampai tengah hari, saat hampir duapuluh orang prajurit berkuda Majapahit terbunuh dan belasan luka parah, pertempuran terus berlangsung sengit dengan korban lebih seratus orang prajurit Lamajang.

Perlawanan prajurit Lamajang yang belum terpatahkan itu, menurut pengamatan, karena keterlibatan para pahlawan tua Majapahit yang dengan terpaksa harus melawan dengan tujuan akhir mati bersama Dyah Halayudha.

Begitulah, tercatat dalam sejarah, bagaimana secara berurutan para pahlawan Majapahit seperti Pamandana, Mahisa Pawagal, Ra Jangkung, Ra Teguh, dan Jaran Lejong berguguran sebagai ksatria melawan bala pasukan dari kerajaan yang mereka bela selama ini.

          Sore hari saat matahari hampir tenggelam di balik gunung, para prajurit Majapahit merayakan kemenangan setelah membinasakan sekitar seribu orang prajurit Lamajang yang mempertahankan benteng Pajarakan, terutama setelah pasukan pejalan kaki yang berjumlah satu laksa – 10.000 orang – secara bergelombang menerjang kubu-kubu pertahanan pasukan Lamajang yang jumlahnya hanya seribu orang.

Ceritanya: setelah tengah hari benteng Pajarakan belum berhasil dikuasai, pasukan bala magandi (pemanah) Majapahit menghujani rumah-rumah, gudang-gudang, barak-barak, dan kubu pertahanan dengan panah berapi. Dalam sekejap, bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu itu telah menjadi tungku raksasa, yang memaksa para prajurit yang bertahan di dalamnya harus berlari keluar menyelamatkan diri dari sengatan api.

Demikianlah, para prajurit Lamajang yang berhamburan dari kubu pertahanan mereka, direjam habis oleh pasukan Majapahit yang sudah bersiaga menunggu dengan senjata terhunus. (bersambung) 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia