Rabu, 27 Mar 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 54

Pahlawan Tua Tangkas Menghindar

15 September 2017, 15: 37: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

Pahlawan Tua Tangkas Menghindar

“Seperti bukit batu runtuh, pasukan berkuda pimpinan Dyah Halayudha itu menerjang serentak, menggetarkan tanah dan meruntuhkan nyali”

Pekik kemarahan, jerit kematian, lenguh kesakitan, teriakan putus asa berbaur dengan suara gemerincing senjata beradu dan ratapan pilu mereka yang sekarat meregang nyawa.

Hiruk pertempuran pun makin bergemuruh sewaktu pasukan berkuda yang dipimpin Dyah Halayudha bergerak cepat menerobos jalan-jalan sempit yang digunakan bertahan oleh prajurit Pajarakan.

Di antara prajurit Pajarakan bertahan di kanan dan kiri jalan sempit itu, terlihat seorang pahlawan tua Majapahit yang sudah dikenal dekat oleh Dyah Halayudha: Pamandana, pahlawan asal bumi Sunda yang mengawal Nararya Sanggramawijaya ke Singhasari, saat mengabdi kepada Sri Prabhu Kertanegara.

Tanpa sedikit pun dibayangi rasa takut, pahlawan tua itu berkata sinis kepada Dyah Halayudha sambil menudingkan anak panah yang digenggamnya, “Aku tahu, ini semua ulahmu Mahpati! Kami semua tahu, fitnahmu telah menjadi racun yang akan menebar kebinasan besar bagi Majapahit! Tapi kami yakin, cepat atau lambat, engkau akan binasa dicabik-cabik karmamu sendiri!”

Sebilah anak panah melesat ke arah kepala Pamandana. Namun pahlawan tua itu dengan tangkas menghindar sembari membidikkan anak panahnya, yang melesat laksana kilat ke arah leher Dyah Halayudha, tetapi luput mengenai sasaran hanya sejengkal di sisi leher Dyah Halayudha, mengenai dada prajurit berkuda yang berada di belakangnya. Dyah Halayudha menghela kuda tunggangannya ke arah samping dengan berteriak lantang, “Serang!”   

         Seperti bukit batu runtuh, pasukan berkuda pimpinan Dyah Halayudha itu menerjang serentak, menggetarkan tanah dan meruntuhkan nyali. Tebasan pedang berkelebatan di tengah desingan anak panah dan tikaman tombak yang bergemuruh menumbangkan prajurit-prajurit Lamajang yang berusaha melakukan perlawanan.

Teriakan marah dan jerit kesakitan pun terdengar bersahutan saat tiga-empat orang prajurit berkuda Majapahit jatuh dari kuda tunggangannya dengan bahu terbelah, leher ditancapi panah dan perut menganga dengan usus terburai.

          Dyah Halayudha merasakan darahnya menyembur di ubun-ubun saat menyaksikan pasukan berkudanya terbunuh oleh perlawanan prajurit Lamajang yang dipimpin Pamandana. Dengan keris terhunus, ia memacu kudanya ke depan, menyerang pasukan Lamajang yang menghadang dengan tombak teracung ke arah depan. (bersambung) 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia