Jumat, 16 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Kolom

Bensin Persedikab-Persik Harus Full

Minggu, 03 Sep 2017 10:00 | editor : Adi Nugroho

Rully Prasetyo

Rully Prasetyo

“Uang dari lapangan hijau menjadi sumber pendapatan mereka. Jika macet, bisa jadi pemain dan pelatih akan malas-malasan bertanding”

“Waduh Persedikab degradasi ke Liga 4,” keluh Kang Jono di warung Mbah Paerah kemarin.

Nenek sepuluh cucu ini kaget mendengar keluhan dari Kang Jono. Dia seolah tidak percaya dengan keluhan itu. Karena Bledug Kelud adalah klub yang memiliki nama besar.

Persedikab adalah klub Kediri pertama yang tampil di kompetisi tertinggi di Indonesia. Persedikab juga menjadi klub yang telah menghasilkan banyak pemain bintang, seperti Wahyudi, Musikan, hingga Faris Aditama.  

“Apa Kang?” tanya Mbah Paerah.  Kang Jono mengambil koran di depan dan menunjukkan ke Mbah Paerah. Pemilik warung kopi itu tersenyum. Bledug Kelud yang dulu pernah tampil di kasta tertinggi kompetisi Tanah Air kembali terpuruk. Tahun depan, Persedikab harus berkompetisi di kasta terendah di Indonesia.

“Masih ada Persik Kang,” ujar Mbah Paerah menghibur pelanggan setianya tersebut. Macan Putih masih memiliki peluang lolos dan promosi ke Liga 1 tahun depan. Jika hal itu kembali, Kediri akan kembali punya wakil di kompetisi teratas Tanah Air.

Kang Jono tersenyum. Dia senang Macan Putih masih punya peluang lolos dan promosi ke Liga 1 tahun depan. Namun, ada kekhawatiran yang mendalam dalam dirinya. Macan Putih yang pernah sukses menjadi juara Ligina 2003 dan 2006 tersebut akhirnya harus terdegradasi ke kompetisi kasta kedua di Indonesia. Karena persoalan dana.

Sejak Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Kediri dilarang digunakan untuk membiayai klub sepakbola profesional, Persik seperti kehabisan bensin. Dana dari sponsor tidak mencukupi untuk mengontrak pemain bintang dan pelatih berkelas.

Ujung-ujungnya, pemain yang direkrut adalah pemain-pemain yang harganya murah dan kualitasnya belum teruji. Akibatnya, Persik kembali terdegradasi. “Nanti kalau lolos ke Liga 1 dan terdegradasi lagi bagaimana?” tanya Kang Jono.

Mbah Paerah bingung menjawab. Meski sudah berusia senja, Mbah Paerah adalah Persikmania sejati. Dia selalu mengikuti perkembangan Macan Putih. Setiap hari, dia membaca koran untuk mengetahui berita tentang Persik. 

Karena itu, masalah dana yang dialami Persik juga diketahui Mbah Paerah. “Dana itu yang penting agar Persik bisa berkompetisi dan berprestasi di Liga 1 nanti,” ujar Mbah Paerah.

Sayang, masalah dana bukan hal yang mudah diselesaikan. Sampai saat ini, sponsor utama Macan Putih  adalah PT Gudang Garam Tbk. Jika pabrik rokok itu tidak memberikan bantuan dana saat Persik lolos ke Liga 1 tahun depan, otomatis Macan Putih bisa kehabisan bensin di tengah jalan.

Macan Putih bisa saja terdegradasi karena tak mampu membayar gaji pemain dan melakukan pertandingan away. Karena Liga 1 berbeda dengan Liga 2. Persik harus tampil di kandang lawan, yaitu mulai dari Sumatera hingga Papua. Perjalanan harus lewat jalur udara. Otomatis, biaya yang dikeluarkan akan sangat besar.

“Bensin untuk Persik dan Persedikab itu harus full jika ingin berprestasi di kompetisi Tanah Air,” ujar Kang Jono.

Mbah Paerah manggut-manggut. Dia berharap, jika Persik benar-benar lolos dan promosi ke Liga 1, bensinnya full. Sehingga, tidak habis di tengah jalan. Sedangkan, Persedikab juga harus memiliki bensin yang cukup untuk bisa kembali promosi ke Liga 3, Liga 2, atau kembali ke Liga 1.

Karena bensin sangat penting. Jangan sampai pemain, pelatih, dan ofisial menjadi korban karena tidak adanya bensin yang cukup. Mereka memiliki keluarga. Uang dari lapangan hijau menjadi sumber pendapatan mereka.

Jika macet, bisa jadi pemain dan pelatih akan malas-malasan bertanding. Kekalahan demi kekalahan  akan dialami. Suporter akan merasa kecewa. “Semoga saja Persik dan Persedikab bisa memiliki bensin yang cukup dan berprestasi,” harap Mbah Paerah. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri) 

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia