Rabu, 27 Mar 2019
radarkediri
icon-featured
Features
Laporan Haji 2017 Langsung dari Tanah Suci

Ke Hadramaut Aziziah Menikmati Mandi Lahm

30 Agustus 2017, 11: 21: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

KHAS ARAB: M Arif Hanafi (paling kiri) bersama jamaah lain siap menyantap menu olahan kambing.

KHAS ARAB: M Arif Hanafi (paling kiri) bersama jamaah lain siap menyantap menu olahan kambing. (DOK M ARIF HANAFI - RadarKediri/JawaPos.com)

Belum lengkap rasanya bila berada di Arab Saudi, utamanya di Makkah, tapi belum mencoba kuliner khas. Restoran yang terkenal di antaranya adalah Yaman Hadramaut Aziziah.

Hadramaut sebenarnya adalah nama salah satu lembah di Negeri Yaman. Di lembah itu dahulu Nabi Hud dan Saleh Alaihissalam tinggal. Menjadi terkenal karena kesuburannya walau di antara padang pasir.

Di Makkah, Hadramaut menjadi nama khas restoran Yaman. Semua restoran Yaman menggunakan nama itu. Yang terkenal adalah Hadramaut Aziziah. Jaraknya dari Masjidilharam sejauh 5 kilometer. Bila naik taksi ongkos normalnya 20 real. Tapi bila musim haji seperti ini sang sopir bisa minta dua kali lipat.

Taksi di Makkah tidak menggunakan argo. Selalu didahului tawar-menawar langsung. Bilang saja ke Hadramaut Aziziah, semua sopir taksi pasti tahu. Saking terkenalnya.

"Wah ini sopir taksinya lagi panen. Tarifnya naik dua kali lipat karena banyaknya penumpang," kata Sabik Maulana, saat duduk di jok taksi yang kami tumpangi.

Saat itu Jawa Pos Radar Kediri berempat menuju ke sana. Bersama Pak Eko Wahyono, Sabik Maulana, dan Gus Akhsin. Perjalanannya hanya 10 menit. Setibanya di sana, kami langsung memesan ke kasir. Dua porsi paket mandi lahm kambing. Plus satu kepala kambing untuk kami berempat.

Satu porsi mandi lahm kambing harganya 60 real. Bagi orang Indonesia, cukup untuk dua orang. Bahkan bisa tak habis. Bila tak suka kambing, ada juga menu ayam. Harganya lebih murah. Seporsi ‘hanya’ 40 real.

"Kalau belum ke sini menikmati nasi mandi lahm rasanya belum ke Makkah. Coba saja, nanti pasti ketagihan," ujar Gus Akhsin, yang sudah beberapa kali ke retoran Hadramaut Aziziyah itu.

Usai dari kasir kami serahkan pesanan ke bagian dapur. Jika menginginkan tambahan kepala kambing, bisa pesan langsung ke bagian ini. Satu kepala harganya 20 real. Langsung bayar di bagian itu, tidak di kasir.

Menunggu tak sampai lima menit pesanan kami siap. Disajikan dalam nampan besar. Kira-kira nampan itu berdiameter 60 sentimeter. Nasinya tidak menggunakan jenis beras seperti di Indoneaia. Tapi menggunakan beras jenis lain. Namanya beras Basmati. Beras khas Timur Tengah dan India.

Bulir nasinya lebih panjang. Tidak sepunel nasi Indonesia.

Dalam nasi pesanan kami sudah tercampur potongan daging kambing. Tentu saja lengkap dengan kepala kambing di atasnya.

Di restoran itu kita bisa memilih tempat untuk makan. Mau outdoor atau yang di dalam ruangan ber-AC. Karena, meski malam hari, udara masih terasa panas kami memilih tempat di ruangan ber-AC. Di sekitar kami banyak juga warga lokal yang sedang menyantap makanan. Banyak juga jamaah haji Indonesia.

"Wah kalau udaranya sejuk asyik kalau makan di luar. Makan sambil lihat langit. Sayang udaranya panas banget," kata Sabik.

Nasinya terasa gurih. Sepertinya di masak dengab rempah-rempah. Ada biji cengkih juga di campuran nasi. Daging kanbingnga dalam potongan yang besar-besar. Sebagian masih membalut tulang. Sangat gurih. Tidak ada aroma kambing sama sekali.

Dagingnya juga sangat empuk. Bagian yang nempel di tulang juga mudah mrotoli. Bahkan tulangnya juga lunak. Rasa daging dan nasinya bener-bener nge-blend. Perpaduan yang pas.

Sebagai pelengkap dilengkapi juga dengan semacam sambel. Disajikan dalam mangkuk terpisah. Namun rasanya tidak pedas sama sekali. Lebih mirip acar. Karena rasa masamnya.

Sedangkan kepalanya juga sepeti bagian tulang lainnya. Dagingnya empuk dan gurih. Tulangnya juga lunak. Tidak dibutuhkan alat khusus untuk memecah kepalanya. Cukup dengan diketok dengan genggaman tangan sudah pecah. Otaknya sudah langsung bisa dinikmati.

"Mungkin ini dipresto dulu. Daging sama tulangnya empuk semua. Dan buumbunya meresap nikmat," ujar Eko Wahyono.

Dua porsi nasi lahm pun pindah ke perut. Pak Eko bahkan sudah berhenti duluan karena kenyang. Porsi untuk dua orang kami makan berempat. Meski begitu, sudah sangat cukup membuat kami kekenyangan. Dan kami kembali ke hotel. Istirahat dengan nyaman. (han/fud)

Judul Sambungan\\Satu Porsi Cukup untuk Dua Orang

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia