Jumat, 16 Nov 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Di Nganjuk, Harga Kurban Stabil, Ini Sebabnya

Rabu, 09 Aug 2017 07:30 | editor : Adi Nugroho

BELUM NAIK: Supriadi memberi pakan belasan ekor kambing miliknya. Jelang Idul Adha dia membuat lapak khusus hewan kurban di rumahnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor.

BELUM NAIK: Supriadi memberi pakan belasan ekor kambing miliknya. Jelang Idul Adha dia membuat lapak khusus hewan kurban di rumahnya di Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor. (REKIAN - RadarKediri/JawaPos.com)

NGANJUK-Tiga minggu jelang perayaan Idul Adha, harga hewan kurban di Kabupaten Nganjuk masih stabil. Hal tersebut diduga akibat banyaknya pasokan hewan ternak di Kota Angin hingga minggu kedua Agustus ini.

          Seperti dikatakan oleh Supriadi, salah pedagang kambing di Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor. Pria berusia 47 tahun itu mengatakan, hingga kemarin harga hewan kurban masih belum ada kenaikan.

          Dia mencontohkan untuk kambing etawa dengan usia di bawah satu tahun hanya dijual sekitar Rp 1,5 juta. “Harga di luar Idul Adha ya segitu. Tidak ada kenaikan,” kata Supriadi.

          Lebih lanjut Supriadi mengatakan, harga hewan ternak di Nganjuk relatif stabil. Sebab, jumlah hewan ternak di masyarakat melimpah. Sehingga, pasokan untuk Idul Adha dipastikan mencukupi. “Terlalu banyak yang menjual hewan. Harganya jadi tidak ada lonjakan,” lanjutnya.

          Tidak hanya kambing etawa, kambing Jawa yang usianya diatas satu tahun juga hanya dijual murah. Untuk yang berukuran besar hanya dipatok Rp 1,7 juta hingga Rp 2 juta.

          Melihat jumlah pasokan hewan ternak di masyarakat, Supriadi memprediksi kalaupun ada kenaikan harga jelang Idul Adha nanti, nilainya tidak akan terlalu besar. “Kenaikannya nggak akan banyak,” imbuhnya.

          Sementara itu, menghadapi naiknya permintaan hewan jelang Idul Adha, Supriadi mengaku memiliki resep sendiri untuk menjaga kesehatan ternaknya. Salah satunya, dengan meracik jamu agar dagangannya tidak terkena penyakit.

Apalagi, hingga minggu kedua Agustus ini dinas pertanian belum turun ke lapangan untuk memberi vaksin ternak. Apa saja kandungan jamu yang diberikan kepada ternaknya? Ditanya demikian, Supriadi mengatakan dirinya mencampur telur ayam kampung dengan obat yang disesuaikan dengan penyakit hewan.

Cairan itu lantas dimasukkan ke dalam botol dan diminumkan kepada hewan ternaknya. “Alhamdulillah hewannya sehat-sehat saja,” terang Supriadi sembari menyebut dirinya sudah meracik jamu tersebut selama belasan tahun.

          Takaran obat yang diberikan kepada hewan menurut Supriadi juga hanya menggunakan ilmu kira-kira. “Ya secukupnya,” lanjut Supriadi sambil tersenyum.

          Untuk diketahui, jelang perayaan Idul Adha biasanya dinas pertanian melakukan pemeriksaan hewan kurban. Hewan yang dinilai tidak layak akan diminta untuk tidak dijual.

          Di saat bersamaan, satker yang membidangi peternakan biasanya juga melakukan vaksinasi. Hanya saja, hingga minggu kedua Agustus ini hal tersebut belum kunjung dilakukan.

          Kabag Humas Pemkab Nganjuk Agus Irianto mengatakan, pemkab tidak akan melakukan vaksinasi terhadap hewan. Meski demikian, Agus mengimbau agar pedagang ternak menggunakan vaksin yang sesuai dengan standar hewan. “Bukan menggunakan obat yang digunakan untuk manusia,” kata Agus.

          Untuk memastikan hewan kurban yang dijual di pasaran layak dikonsumsi, Agus menyebut dalam waktu dekat pemkab akan mengecek kesehatan hewan. “Akan kami sampling,” tandasnya.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia