Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Cerbung
Mpu Gama 17

Menyusun Perlawanan Bawah Tanah

05 Agustus 2017, 22: 20: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Menyusun Perlawanan Bawah Tanah

“Dalam usaha memamerkan kesetiaan, tidak segan Kebo Hiju  mempersembahkan pusaka-pusaka milik ayahandanya kepada  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung”

Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung yang ditunjuk sebagai Raja Janggala di Tumapel oleh Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa Kertajaya menempatkan Kebo Hiju sebagai penguasa Wisaya Karangan, sebuah wilayah yang terdiri dari sepuluh desa di lembah subur yang terletak di daerah perlintasan jalan yang menjulur berliku-liku dari Tumapel ke Panjalu.

Berbeda dengan Rakryan Mahesa Landung, ayahandanya yang dikenal sebagai setiawan pengabdi maharaja yang gugur bersama-sama maharaja dalam mempertahankan keraton, Kebo Hiju justru mengabdikan diri sebagai hamba setia musuh yang telah menewaskan ayahandanya.

Di dalam usaha memamerkan kesetiaan, tidak segan Kebo Hiju  mempersembahkan pusaka-pusaka milik ayahandanya kepada  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya. Tidak jarang, Mahesa Tandi mencari dan mendapatkan pusaka-pusaka kerajaan yang masih dipegang oleh para nayaka yang sudah uzur, teman-teman mendiang ayahandanya, untuk dihadiahkan kepada pejabat panca tandha yang dekat dengan maharaja.

Oleh karena kepandaiannya dalam mengambil hati junjungannya, Kebo Hiju mendapat anugerah tanah simha di sebelah timur Karangan yang disebut tanah Hiju milik Kebo Hiju.

Meski dikenal sebagai penjilat rendah yang menjijikkan, Kebo Hiju tidak seutuhnya menjadi seorang pengkhianat. Sebab sebagai putera Rakryan Mahesa Landung, Kebo Hiju sangat mengenal siapa saja keluarga dekat Maharaja Tumapel beserta para setiawan pendukungnya seperti Mapanji Bango Samparan, Rakryan Panji Ragamasa, Rakryan Mahesa Tugaran, Tuwan Aji Panitikan, Tuwan Sanja Sahaya, Mahesa Welahan, hingga Sri Tarunaraja Girindratmaja Sang  Brahmaraja Wiswarupalancana yang mengasingkan di Biara Gandalayu sebagai Bhikku bergelar Dang Acarya Girindratmaja Purwwawijaya.

Namun dengan memalingkan muka, Kebo Hiju menutup mata seolah tidak mengenal dan tidak mengetahui apa pun tentang mereka yang diam-diam menyusun perlawanan bawah tanah.

Ranggah Rajasa yang mengetahui cerita Kebo Hiju dari Gagak Inget, Tuwan Tita, Panji Kunal, bahkan dari Mapanji Bango Samparan sangat muak dengan manusia bermuka dua itu. Itu sebab, sewaktu Panji Kunal dan Tuwan Tita menghadapnya di Gunung Lejar sambil menyerahkan tiga keris pusaka bikinan Mpu Gandring, Ranggah Rajasa memutuskan untuk memasukkan Keboi Hiju ke dalam pusaran rencana pembunuhan terhadap wakil raja Panjalu di Tumapel Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya. (bersambung)

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia