Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 03

Menderita di Bawah Kekuasaan Raja

19 Juli 2017, 17: 55: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

KARYA: AGUS SUNYOTO

KARYA: AGUS SUNYOTO (ILUSTRASI: NAKULA AGI - RadarKediri/JawaPos.com)

“Kebesaran Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga terbelah menjadi Janggala dan Panjalu yang saling berperang berebut kuasa”

 

Dengan kedhaton di Watugaluh dan kutaraja di Tamwlang Kahuripan, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadharmotunggadewa Pu Sindok mengumpulkan serpih-serpih keturunan Sri Narapati Dewasimha untuk membangunan kekuasaan baru di bekas wilayah kekuasaan datu leluhur.

Kedermawanan dan keadilan serta perlindungan yang diberikan  Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadharmotunggadewa kepada para kawula, telah menimbulkan gelombang perpindahan penduduk dari wilayah Mataram ke timur.

Dengan sukarela dan penuh harapan, para pendatang yang merasa sengsara dan menderita di bawah kekuasaan raja-raja Mataram yang gemar membangun candi-candi besar, semua menyatakan sumpah setia untuk mengabdi kepada  Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadharmotunggadewa Pu Sindok.

Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadharmotunggadewa Pu Sindok dikisahkan  menurunkan para raja besar dengan permata kemuliaan Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Ananta Wikramatunggadewa. Kebesaran Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga pun terbelah menjadi Janggala dan Panjalu yang saling berperang berebut kuasa, di mana dalam perebutan tahta kekuasaan itu kekuatan Janggala dihancurkan oleh kekuatan Panjalu yang dipimpin Sang Mapanji Jayabhaya dalam pertempuran di Hantang.

Sri Maharaja Mapanji berkuasa laksana Wisynuwatara yang melimpahkan kemakmuran dan kesejahteraan di bawah keamanan dan kedamaian. Namun seperti mengulang kisah Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga, tahta Panjalu yang ditinggalkan Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya diperebutkan oleh dua orang puteranya: Sri Aryeswara dan Sri Sarweswara.

Saling berebut tahta di antara keturunan Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya berakhir sewaktu Sri Maharaja Kameswara naik tahta menggantikan saudara sepupunya, Sri Maharaja Sri Kroncaryadipa Sri Gandra.

Sri Kameswara menikah dengan Nararya Candrakirana, puteri maharaja Janggala yang berkedhaton di Tumapel : Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara.

Selain memiliki puteri Nararya Candrakirana, Sri Maharaja Jayamerta memiliki pula putera yang menjadi putera mahkota,  yang diberi kedudukan sebagai Ratu Angabhaya dengan gelar Sri Tarunaraja Girindratmaja Sang Brahmaraja Wiswarupalancana.(bersambung)  

 

 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia