‘Tindak Peken’

Tindak pundi, Jeng?”

Badhe dhateng lepen, mangga…”

Dialog seperti itu sudah lama –sangat lama bahkan—tidak pernah terdengar lagi di warung Mbok Dadap. Si Mbok bakul sego tumpang yang enaknya sak ndonya itu memang blater. Setiap ada yang lewat depan warungnya selalu disapa. Seperti dialog di atas tadi.

Selain untuk menjaga hubungan sosial antartetangga, sapaan-sapaan itu juga menjadi salah satu strateginya sebagai bakul yang memang dituntut ramah kepada siapa saja. Sebab, dialog di atas biasanya ada sambungannya. Begini…

Mboten sarapan sekul tumpang rumiyin?”

Yang ditanya, kalau tidak siap jawaban, pasti gelagepan. Mau mampir, sudah terburu-buru ke sungai. Tapi, kalau nggak mampir, sungkan sama Mbok Dadap. Akhirnya, jawabannya jadi begini: “Nggih, Mbok. Mangke…” Padahal, habis dari sungai, lepen, kali, langsung mlipir-mlipir. Pulang. Soalnya, nggak bawa uang.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar