Lampu Beam

Matkriting yang jemarinya kriting gara-gara suka posting kini ikut-ikutan pusing. Sebab, posting-posting-nya sekarang sering dibalas posting. Posting benci dibalas benci. Posting humor pun tetap dibalas benci.

Makanya, grup WA-nya yang sak dabreg, isinya jadi penuh dengan posting-posting kebencian. Pagi, siang, malam. Benar-benar bikin kepala pusing dan rambut makin keriting. “Makanya, jangan angger bikin posting,” nasihat Pakde Suto saat cangkruk bareng di warung sego tumpang Mbok Dadap yang enaknya sak ndonya.

Entahlah, media sosial (medsos) yang pada awal kemunculannya sekitar satu dekade lalu menjadi perekat hubungan sosial dari orang-orang yang berjauhan, kini berkembang menjadi sebaliknya. Jadi media peretak hubungan itu.

Mereka yang dulu terpisah dan dikumpulkan dalam grup-grup dunia maya, disatukan oleh kerinduan yang sama, tiba-tiba dijadikan serpihan lagi. Ambyar. Karena kata-kata. Yang tidak tertata. Yang seringkali lepas dari etika sebagaimana ada dalam pergaulan dunia nyata. ”Aku kan cuma repost, Pakde. Ngajak kebaikan. Mencegah keburukan,” ucap Matkriting membela diri.

Ya kuwi sing repot,” sahut Pakde Suto. Masalahnya, persepsi atas nilai-nilai kebaikan dan keburukan itu tidak sama antar-orang. Apalagi setelah terpisah bertahun-tahun dan mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda.

Sementara, seringkali grup medsos dibentuk atas kesamaan tentang sesuatu. Sama-sama teman lama: di sekolah, kampus, pondok, tempat kos, atau kampung. Sama-sama penghobi: akik, burung, atau bunga. Atau, sama-sama pekerjaan: pegawai, pengusaha, atau makelar.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar