Kanca Kenthel

Kanca kenthel. Itu beda dengan kanca udrak-udruk. Karena yang udrak-udruk belum tentu kenthel. Dan, yang kenthel tidak harus udrak-udruk. Seperti Dulgembul dan Matjemblung. Meski hampir tiap pagi udrak-udruk ke warung sego tumpang Mbok Dadap, keduanya masih sulit dibilang kanca kenthel.

Akrab sih iya. Cengar-cengir dan cengengesan bareng juga iya. Gantian mbayari juga bukan hal yang baru. Tapi, itu semua baru sebatas di luar. “Belum gini,” kata Kang Noyo sambil menunjukkan kedua tangannya yang saling menggenggam erat. Mengibaratkan betapa erat dan menyatu hubungan dua orang yang disebut sebagai kanca kenthel.

Kanca kenthel memang tidak harus udrak-udruk. Tidak mesti ada di sisi salah satunya di mana pun mereka pergi. Namun, mereka saling tau apa yang dibutuhkan. Dan, selalu akan memberikannya sebelum diminta. Karena mereka bisa bercengkerama tanpa harus berkata-kata. Kadang cukup lewat tatapan mata saja.

Karena itu, tak semua orang bisa tau ke-kenthel-an sebuah kekancan. Karena kanca kenthel memang tidak selalu tampil di permukaan. Sering-sering malah di balik layar. Makanya, kalau identitasnya sebagai kanca kenthel ketahuan, dia akan segera kondang.

Cuma, sialnya, gara-gara ingin kondang, banyak orang sering mengaku-aku sebagai kanca kenthel orang kondang. Biar ketularan kondang. Hanya modal foto bareng. Atau, sering nongol di sela-sela kegiatan orang kondang. Di mana orang kondang itu berada, dia selalu berusaha nempel. Ada di kanannya. Atau kirinya. Atau belakangnya.

Tak cukup dengan itu, ‘penampakan’-nya di dekat orang kondang harus selalu disebarkan. Lewat banyak media sosial. Ya facebook. Ya instagram. Ya twitter. Ya whatsapp. Semuanya. Sehingga, orang benar-benar bisa diyakinkan bahwa dia adalah kanca kenthel dari orang yang kondang.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar