Gak Duwe Isin

Nggak cuma wong ngisoran dan bakul-bakul cilik. Ternyata, negara juga mulai ngelu. Dan, namanya wong ngelu, tidak punya uang, segalanya bisa dilakukan. Itu demi menyelamatkan hal-hal yang lebih esensial. Menjaga agar periuk nasi tidak nggoling. Sebab, jika wakul sudah nggoling, itu alamat wong omah nggak ada yang bisa makan. Jelas, berbahayyyyyaa.

Di kalangan wong cilik seperti trio bersaudara Lik Mukidi, Lik Mukijan, dan Lik Mukinem, seretnya ekonomi itu sudah dirasakan sejak 2-3 tahun terakhir. “Bakulan sepi,” kata mereka.

Benar masih berdatangan orang ke pasar. Benar masih ada saja orang yang membeli dagangan mereka. Tapi, jumlahnya mulai menurun. Volumenya tak sebanyak sebelumnya. “Rong dina sak obrok saiki wis apik,” ucap Lik Mukidi yang bakul gedang.

Nggak seperti dulu. Dalam sehari, satu obrok pisang yang dibawanya ke pasar mesti habis. Bahkan, seringkali dia bisa mengirim dua obrok sekaligus.

Itu dialami pula oleh Lik Mukijan, adiknya, yang jualan gedang goreng. Sejak harga-harga naik akibat kenaikan harga BBM, beberapa tahun lalu, ia berada dalam kondisi dilematis. Mau menaikkan harga, takut pembelinya nggak mau datang. Nggak menaikkan harga, sudah jelas bathi-nya nggak nyucuk.

Maklum, begitu harga BBM turun lagi setelah harga minyak dunia turun, harga barang-barang yang sudah telanjur naik nggak mau ikut-ikutan turun. “Wong tuku saiki sepi,” keluhnya. Pelanggan yang biasanya bisa hampir setiap hari mampir beli gedang gorengnya, sekarang tinggal seminggu sekali. Paling banter seminggu tiga kali. Itu pun jarang. “Duite nggo tuku liyane,” lanjut Lik Mukijan tentang alasan pelanggannya.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar