Bentuk Karakter Kritis lewat Bacaan

Mayoritas anak-anak yang ingin menambah wawasan di luar buku-buku pelajaran sekolah. Ini mengindikasikan kebutuhan masyarakat terhadap buku dan ilmu pengetahuan semakin berkembang.

Lantas bagaimana dengan anggapan buku yang dianggap sesat? Menurut Iwan, tidak ada buku yang sesat. Dengan catatan, buku itu bisa didiskusikan dan didialogkan bersama. “Saya pikir jika ada pelarangan penerbitan buku itu hanya ketakutan yang berlebihan,” ucapnya.

Selagi ada ruang untuk berdiskusi, Iwan menganggap, ide yang dituangkan dalam buku bisa dibantah dengan buku yang baru. Sebab itulah, dia percaya kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari berapa banyak buku yang sudah dibaca.

Bagi Iwan, pelarangan buku sama saja dengan pemberangusan ilmu pengetahuan. Dia mencatat, ada tiga poin yang menjadi kejahatan literasi. Yakni, pembaca yang meminjam buku di perpustakaan atau di TBM, tetapi tidak dikembalikan. Kemudian, membakar buku.

Dan terakhir, tidak membaca buku. “Itu tolak ukurnya,” ucap dia. Di tempat yang sama, Nimas Suci Cahyiningtiyas, 15, warga Desa Jambu, mengaku, membaca buku menambah ilmu pengetahuannya.

“Saya suka novel, dari novel banyak daerah-daerah yang saya ketahui,” katanya.

Nimas tak segan bertanya kepada Iwan jika tak mengerti kata-kata sulit dalam buku.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar